”Pada 5% berada di pesisir Bengkulu, dari utara Kota Bengkulu hingga Kaur, sedangkan 50% masih berada di laut pada 5 Oktober. Meliputi lepas pantai Bengkulu, selatan Kepulauan Mentawai, hingga bagian Samudra Hindia.”
Setelah beberapa minggu di laut terdapat sejumlah proses yang sulit direpresentasikan secara penuh dalam model. Seperti objek yang tenggelam dan kembali mengapung, tersangkut pada rumpon atau jaring, maupun perubahan pergerakan akibat gelombang ketika mencapai pantai.
Setiap informasi lapangan baru memiliki nilai penting bagi pengembangan model. Data berupa barang milik korban atau serpihan kapal yang dilengkapi koordinat dan waktu penemuan dapat digunakan untuk memperbarui perhitungan dan mempersempit wilayah probabilitas, kata Prof. Widodo.
Setelah Basarnas menghentikan operasi pencarian gabungan 17 September 2026 lalu, BRIN merekomendasikan agar tim independen melanjutkan pencarian, meneruskan penyisiran kembali di seluruh pantai Enggano.
Kemudian menyebarkan informasi kepada nelayan dan pemerintah desa di pesisir Bengkulu, dan kapal-kapal yang melintas di koridor 4,5–5,3 derajat Lintang Selatan diminta waspada terhadap benda atau tubuh yang mengapung.
Untuk wilayah probabilitas yang sudah berada di Samudera Hindia, diperkirakan hanya bisa dijangkau oleh kapal berukuran sangat besar.



