Salah satu masalah utama perkotaan adalah masalah sampah. Jumlah limbah yang dihasilkan oleh individu bertambah setiap hari dan sering kali membebani pemerintah terkait regulasi, anggaran pengelolaan hingga keharusan untuk melakukan edukasi pada masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan.
Diketahui, pengumpulan dan pembuangan limbah padat yang buruk dapat menyebabkan polusi udara dan air serta masalah kesehatan yang serius. Pengelolaan limbah padat dan masalah sampah kota telah menjadi perhatian dunia.
Terkait masalah sampah laut, ternyata riset menyatakan bahwa 80 persen sampah laut (marine debris) berasal dari darat. Maka perbaikan infrastruktur pengelolaan sampah darat baik dari sektor domestik maupun industri menjadi keharusan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan hari Senin pertama bulan Oktober setiap tahun sebagai Hari Habitat Dunia. Peringatan Hari Habitat Dunia bertujuan untuk merefleksikan keadaan kota-kota dan pemenuhan hak dasar untuk tempat tinggal yang layak. Peringatan ini menjadi refleksi bagi kita semua bahwa kita memiliki kemampuan dan tanggung jawab bersama atas masa depan kota dan tempat tinggal kita.
Ibukota Sulawesi Tengah, kota Palu terpilih menjadi lokasi puncak peringatan Hari Habitat Dunia untuk Indonesia pada tanggal 3 Oktober 2018, dengan rangkaian kegiatan bertema; Gerakan Indonesia Bersih dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman sebagai koordinator nasional serta didukung oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR), Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Pemerintah Kota Palu serta berbagai kementerian dan lembaga terkait.
Gerakan Indonesia Bersih mengajak berbagai unsur masyarakat melakukan aksi bersih serentak di 34 propinsi pada tanggal 28 September hingga 03 Oktober 2018. Aksi Bersih meliputi pembersihan jalan, pasar, terminal, perkantoran, sekolah, perumahan hingga fasilitas umum, serta pembersihan pantai, juga sungai dan bantarannya.
Sumber: Kemenko Kemaritiman





Komentar tentang post