Sebagai Provinsi yang baru saja terbentuk, berdasarkan kajian Universitas Negeri Gorontalo tahun 2013 tentang program agropolitan jagung, pemerintah Provinsi Gorontalo menetapkan tiga program unggulan dalam memacu pembangunan, yaitu pengembangan sumberdaya manusia, agropolitan dengan entry point jagung, dan etalase perikanan.
Semntara itu, data terbaru Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo 1 November 2024, luas panen jagung pipilan pada tahun 2024 diperkirakan mencapai 128,18 ribu hektar. Angka ini meningkat sebesar 13,82 ribu hektare atau 12,09 persen dibandingkan luas panen tahun 2023 yang tercatat sebesar 114,36 ribu hektar.
Kebijakan tersebut lantas mempengaruhi cara bertani masyarakat Gorontalo secara umum. Sebelumnya, petani lahan kering di Gorontalo mengelola sumber daya alam dengan menanam berbagai tanaman yang berhubungan dengan bahan makan, bukan sepenuhnya bergantung pada tanaman jagung.

Hal ini kemudian menimbulkan berbagai tantangan bagi petani lokal. Perubahan pola bertani di tahun-tahun awal provinsi ini terbentuk dapat dikatakan bahwa Gorontalo mengalami revolusi hijau yang datang terlambat.
Menurut Rahman, jagung tidak lagi memberikan keuntungan yang memadai bagi petani. Selain itu, kondisi lahan di Desa Ilomata yang berbukit dinilai semakin tidak cocok untuk budidaya jagung. Meski demikian, sebagian besar masyarakat Ilomata hingga kini masih bergantung pada pertanian jagung.




