“Kenapa saya bikin terasering dan tumpangsari, kerena jagung merusak nutrisi tanah. Lalu dari segi keuntungan juga dibawah, lebih banyak capek daripada keuntungan,” timpal Parman.
Lahan seluas 0,5 hektar dengan kemiringan 40 persen, luasnya kira-kira setara dengan separuh lapangan sepak bola standar telah ditanami pohon lada, alpukat, pala, pisang, durian, kopi dan kelapa.
“Kebun saya di atas bukit, dan miring jadi harus bikin teras agar laju air bisa tertahan. Yang mengenalkan pertanian berkelanjutan ini Japesda, bibit dari Japesda juga. Namun belakangan untuk bibit-bibit seperti lada, mangga dan lainya sudah saya kembangkan sendiri, lewat pelatihan Japesda,” jelas Rahman.
Eksperimen tidak hanya sampai pada pupuk kompos dan mengembangkan bibit, Rahman pun secara mandiri telah membuat membuat pupuk cair Jakaba (Jamur Keberuntungan Abadi). Pupuk organik ini dari fermentasi air cuci beras yang kaya nutrisi untuk menyuburkan tanaman, serta mempercepat pertumbuhan tanaman terutama tanaman yang kerdil.
“Jakaba ini baru saja pelajari, lalu saya praktekan dan ternyata berhasil. Jadi sebelum saya tau jakaba ini, saya bikin bibit lada banyak yang mati. Baru-baru ini saya bikin bibit baru dan saya sirami jakaba, yang mati hanya sedikit,” kata Rahman.




