Perubahan Iklim Dapat Memicu Penyebaran Penyakit Tuberkulosis

GAMBAR: BRIN

Darilaut – Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan fisik, tetapi juga mempengaruhi kesehatan manusia secara signifikan.

Salah satunya penyebaran tuberkulosis (TB). Penyakit ini hingga kini masih menjadi perhatian nasional dan global.

Kenaikan suhu udara, peningkatan intensitas cuaca ekstrem, hingga penurunan kualitas air menjadi sejumlah faktor pemicu meningkatnya penyakit menular.

Peneliti Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dianadewi Riswantini, menjelaskan bahwa perubahan iklim turut berkontribusi terhadap penyebaran penyakit TB di Jawa Barat.

“Studi Climate Epidemiology yang kami lakukan bertujuan untuk memahami, merencanakan, dan mencegah berbagai dampak perubahan iklim,” ujarnya.

Selain itu, kata Diana, hasilnya diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam mengantisipasi risiko kesehatan dan menyusun strategi adaptasi untuk melindungi kesejahteraan masyarakat.

Perubahan ekologi vektor akibat perubahan iklim dapat memicu peningkatan penyakit yang ditularkan melalui hewan perantara seperti nyamuk, termasuk malaria, demam berdarah (dengue), dan chikungunya.

Perubahan cuaca ekstrem pun berpotensi menimbulkan gangguan pernapasan, seperti asma dan alergi. Dampak lain dari perubahan iklim juga menyebabkan penyakit, seperti tifus, kolera, diare, serta gangguan gizi (malnutrisi).

Bukan hanya itu, menurut Diana, kondisi lingkungan yang semakin tidak stabil turut mempengaruhi kesehatan mental masyarakat.

Paparan panas ekstrem juga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan stroke, dalam kasus tertentu dapat berujung pada kematian, kata Diana pada Webinar PRSDI #04 bertema “Digital Epidemiology: Transformasi Kajian Kesehatan dengan Sains Data” Rabu (14/5).

Dalam riset bertajuk Potential Risk of New Tuberculosis Cases in West Java, tim peneliti BRIN melakukan analisis risiko spasial dan temporal terhadap sebaran kasus TB baru di wilayah Jawa Barat.

Penelitian ini memanfaatkan data dari tahun 2019 hingga 2022 yang bersumber dari BPJS, BPS Jawa Barat, Open Data, serta data iklim dari Copernicus Climate.

Hasilnya menunjukkan bahwa Kabupaten Karawang, Majalengka, dan Kuningan memiliki interaksi spasio-temporal yang kuat terhadap penyebaran TB. Artinya, kasus baru meningkat secara signifikan dalam dimensi ruang dan waktu.

Sementara itu, wilayah Kabupaten Bogor, Sukabumi, Karawang, dan Bandung secara konsisten menunjukkan tingkat risiko relatif tinggi, dengan nilai risiko berkisar antara 1 hingga 15. Kebijakan dan strategi pengendalian penyakit TB  perlu mendapatkan perhatian lebih untuk wilayah di atas, terutama Kabupaten Karawang.

Penelitian ini dilanjutkan dengan pemetaan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap insidensi TB.

Studi ini menjadi bagian dari upaya BRIN dalam mendukung kebijakan kesehatan publik yang lebih responsif terhadap dinamika lingkungan dan sosial.

Selain tuberkulosis, pendekatan serupa juga relevan untuk mengkaji penyebaran penyakit lain yang dipengaruhi oleh perubahan iklim, seperti demam berdarah, malaria, dan gangguan pernapasan.

Exit mobile version