Perubahan Iklim: Gejala Mengkhawatirkan Mencairnya Bongkahan Es di Kutub

Hamparan padang lamun. FOTO; DARILAUT.ID

Darilaut – Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim, Sarwono Kusumaatmadja, mengatakan dari sudut perkembangan perubahan iklim, terdapat gejala-gejala yang mengkhawatirkan.

Gejala akselerasi perubahan tersebut, kata Sarwono, berupa berbagai bencana yang tidak tipikal, seperti bencana kebakaran di California, Eropa serta Afrika Utara dan mencairnya bongkahan es di Kutub Utara dan Kutub Selatan yang dapat mencapai 2- 5 miliar ton/hari.

Menurut Sarwono, karbon biru merupakan sumber lingkungan karbon yang mengurangi emisi penyebab perubahan iklim, sebagai dari sumber keanekaragaman hayati Indonesia yang berada di ekosistem pesisir.

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar setelah kawasan pesisir terpanjang kedua Kanada harus berusaha keras memanfaatkan potensi jasa lingkungan penyerapan karbon yang ada di kawasan pesisir, kawasan mangrove, lahan basah dan padang lamun/lamun.

Ekosistem lahan basah di Indonesia khususnya laut dan pesisir memiliki kemampuan menyimpan karbon hingga empat kali lipat dibandingkan hutan tropis.

Jika ekosistem karbon biru seperti mangrove, lamun dan terumbu karang dijaga dengan baik, dampak baik tidak hanya untuk mengatasi tantangan perubahan iklim, tetapi juga memberikan nilai jasa lingkungan untuk masyarakat lokal.

Guna implementasi pengelolaan, pemanfaatan, dan upaya-upaya perlindungan karbon biru di lapangan yang melibatkan masyarakat pesisir, Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLHK) kembali mengadakan Diskusi Pojok pada Rabu (18/8) dengan tema “Karbon Biru untuk Kita Semua”.

Koordinator Pengembangan Kurikulum, Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang dan Perbukuan, Kemdikbud Ristek, Yogi Anggraena mengatakan saat ini sedang dilakukan pengembangan kurikulum yang diimplemantasikan secara terbatas di 2500 sekolah penggerak dan 900 SMK pusat keunggulan.

Untuk mencapai profil pelajar Pancasila, selain melalui mata pelajaran, juga dilakukan pembelajaran berbasis proyek.

“Begitupun terkait dengan perubahan iklim. Selain melalui mata pelajaran, juga dilakukan pembelajaran yang ditunjang melalui proyek yang ada,” ujar Yogi.

Peneliti Ahli Utama Konservasi Keanekaragaman Hayati, BSI LHK, KLHK, Hendra Gunawan mengatakan pengalamannya dalam membangun ekowisata mangrove di Karangsong, Jawa Barat sebagai model yang dapat ditiru bagi tempat lain.

Rehabilitasi mangrove dapat menjadi model pemulihan kerusakan lingkungan seperti abrasi masif di Indramayu yang menghilangkan ratusan tambak, serta mitigasi bencana, edukasi dan pemberdayaan masyarakat.

Rehabilitasi mangrove, kata Hendra, adalah tentang komitmen bersama, bukan sekedar program. Komitmen jangka panjang perlu ditanamkan dalam pendidikan karakter melalui pendidikan lingkungan hidup tematik mangrove. Melalui ekowisata, pelestarian mangrove terbukti cukup dan mampu membangkitkan perekonomian masyarakat sekitar melalui terbukanya kesempatan berusaha dan lapangan kerja.

Senior Program Manager, Coral Triangle Center, Hesti Widodo mengatakan Indonesia menjadi titik yang sangat penting pada segitiga karang. Indonesia memiliki keanakeragaman hayati yang tinggi, tidak hanya terumbu karang, tapi juga mangrove, padang lamun yang luas, Keragaman ikan dan lainnya.

Menurut Hesti, pemerintah Indonesia bersama lainnya sudah masuk pada mosi negara menargetkan untuk perlindungan sumber daya laut. Dibutuhkan upaya bersama dengan target 30% laut di dunia pada tahun 2030.

Faktanya, saat ini walaupun laut untuk menutupi 70% wilayah permukaan bumi, hanya 2% saja yang terlindungi dan menyeluruh dari kegiatan yang merusak.

Saat ini istilah karbon biru belum menjadi familiar. Menurut Hesti masyarakat masih asing dengan karbon biru. Untuk lebih mempopulerkan atau memprioritaskan karbon biru, diperlukan peningkatan kesadaran masyarakat, kebijakan sebagai dasar serta panduan dan penerapan secara aktif di lapangan bersama kelompok pembuat kebijakan dan masyarakat umum.

Ketua Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI), Myra Widiono, mengatakan upaya WARLAMI dalam budaya bangsa melalui pemanfaatan mangrove sebagai pewarnaan alam. Produk pewarnaan alam dari hutan dan tanaman mangrove meningkatkan perekonomian dan pelestarian budaya masyarakat. Karbon biru membutuhkan upaya pelestarian dan pemulihan ekosistem mangrove.

Upaya pelestarian dan pemulihan harus berlandaskan hukum, memerlukan keterlibatan masyarakat, dan memerlukan peningkatan kondisi sosial serta perekonomian masyarakat pesisir.

Penasihat Senior Menteri LHK, KLHK, Soeryo Adiwibowo mengatakan mangrove menjadi sarana edukasi di tempat wisata sehingga bisa menambah informasi pengunjung. Mangrove juga diterapkan dalam wilayah sekolah lokal dan harapannya kurikulum yang bisa ditanamkan.

Exit mobile version