Perubahan Iklim Tantangan Terbesar Restorasi Terumbu Karang

Transplantasi karang

Transplantasi karang di pesisir Bone Bolango. FOTO: TIM FPIK-PKPTLD UNG

Darilaut – Perubahan iklim menjadi tantangan terbesar untuk strategi restorasi terumbu karang karena harus mampu meningkatkan ketahanan ekosistem terhadap kondisi lingkungan yang terus berubah.

“Selama hampir sepuluh tahun bekerja di restorasi terumbu karang di Indonesia, saya melihat banyak program berhasil meningkatkan tutupan karang,” kata peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Zach Boakes, seperti dikutip dari Brin.go,id.

“Tetapi, apakah terumbu tersebut benar-benar telah pulih sebagai sebuah ekosistem? Pertanyaan ini menjadi fokus penelitian postdoktoral saya di BRIN.”

Zach, peneliti pascadoktoral asal Inggris, menjelaskan hasil penelitiannya bertajuk “Ecological Functioning pada Ekosistem Terumbu Karang”. Menurut Zach, restorasi ideal tidak hanya mengembalikan struktur fisik karang, tetapi juga memulihkan proses-proses ekologis yang menopang kehidupan laut.

Zach mengatakan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis dalam konservasi terumbu karang dunia karena berada di kawasan Coral Triangle, wilayah dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia.

Meski hanya menutupi sekitar 0,1-0,2% dasar laut, terumbu karang menjadi habitat bagi sekitar 25% spesies laut serta menopang sektor perikanan, pariwisata, dan perlindungan wilayah pesisir.

Namun, menurut Zach, ekosistem tersebut terus menghadapi berbagai ancaman, mulai dari kerusakan akibat aktivitas manusia, pencemaran sampah plastik, hingga peningkatan suhu laut yang memicu coral bleaching.

Bersama tim peneliti BRIN, Zach mengembangkan metode yang dapat mengukur berbagai fungsi ekosistem, seperti produksi karbonat, herbivori, predasi, dan siklus nutrien, sehingga keberhasilan restorasi dapat dievaluasi secara lebih komprehensif.

Hasil awal penelitian menunjukkan bahwa berbagai fungsi ekosistem mulai pulih meski dengan laju yang berbeda, sehingga diperlukan pemantauan jangka panjang untuk memastikan efektivitas program restorasi.

Selain itu, Zach mendorong agar restorasi tidak hanya menggunakan spesies karang yang tumbuh cepat, tetapi juga mempertimbangkan spesies yang lebih tahan terhadap peningkatan suhu laut agar ekosistem hasil restorasi memiliki daya tahan lebih baik terhadap dampak perubahan iklim.

Kepala PRIMA BRIN, Albertus Sulaiman, mengatakan,  keberhasilan restorasi tidak cukup diukur dari banyaknya karang yang tumbuh.

“Selama ini keberhasilan restorasi sering kali diukur dari pertumbuhan atau tutupan karang. Padahal, yang tidak kalah penting adalah memastikan fungsi ekologinya juga pulih,” ujarnya.

Dengan begitu, kata Albertus, ekosistem terumbu karang dapat kembali memberikan manfaat bagi keanekaragaman hayati maupun masyarakat pesisir.

Peneliti BRIN Yudawati menambahkan bahwa kajian kondisi terumbu karang masa lampau juga penting untuk mendukung konservasi. Data jangka panjang mengenai perubahan ekosistem dalam skala ruang dan waktu geologi akan membantu memahami kemampuan adaptasi terumbu karang terhadap perubahan lingkungan dan iklim.

BRIN) memperkenalkan pendekatan baru dalam restorasi terumbu karang yang tidak hanya berfokus pada peningkatan tutupan karang, tetapi juga pada pemulihan fungsi ekosistem secara menyeluruh.

Pendekatan ini mampu menghasilkan ekosistem laut yang lebih sehat, tangguh, dan berkelanjutan dalam menghadapi perubahan iklim.

Gagasan tersebut disampaikan dalam Coffee Morning yang diselenggarakan PRIMA BRIN, secara daring pada Jumat (10/7).

Forum ilmiah rutin ini menjadi wadah bagi para peneliti untuk berbagi hasil riset dan memperkuat kolaborasi dalam pengelolaan ekosistem pesisir berbasis sains.

Melalui Coffee Morning, PRIMA BRIN terus memperkuat budaya berbagi pengetahuan serta kolaborasi dengan peneliti nasional dan internasional. Forum ini diharapkan dapat mempercepat diseminasi hasil riset sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan berbasis sains guna meningkatkan ketahanan ekosistem pesisir Indonesia.

Exit mobile version