Darilaut – Sistem informasi tingkat bahaya kebakaran hutan dan lahan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan menggunakan Fire Weather Index (FWI) potensi pada periode 31 Oktober hingga 06 November di Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Menurut BMKG, FWI potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera diprediksi secara umum berada pada rentang kategori Rendah (biru) hingga Sangat Tinggi (merah). Potensi kebakaran hutan dan lahan dengan risiko tertinggi terdapat di sebagian wilayah Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung. Wilayah Jawa diprediksi secara umum berada pada rentang kategori Rendah (biru) hingga Sangat Tinggi (merah). Potensi kebakaran hutan dan lahan dengan risiko tertinggi terdapat di sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, dan Jawa Timur, kata BMKG Wilayah Kalimantan diprediksi secara umum berada pada rentang kategori Rendah (biru) hingga Sangat Tinggi (merah). Potensi kebakaran hutan dan lahan dengan risiko tertinggi terdapat di sebagian wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Hal ini berdasarkan Monitoring dan Potensi Kebakaran Hutan dan Laham berlaku tanggal 31 Oktober - 06 November 2026. Dalam gambar,warna Biru (0–1) Intensitas api pada kategori rendah. Api mudah dikendalikan, cenderung akan padam dengan sendirinya. Warna Hijau (2–6) Intensitas api pada kategori sedang. Api relatif masih cukup mudah dikendalikan. Warna Kuning (7–13) Intensitas api pada kategori tinggi. Api sulit dikendalikan. Warna Merah (>13) Intensitas api pada kategori sangat tinggi. Api sangat sulit dikendalikan. Hasil analisis yang dilakukan BMKG provinsi prioritas pemantauan karhutla, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Jumlah titik panas di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur fluktuatif, sedangkan di Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat menurun dalam 7 hari terakhir. Di provinsi Riau tidak terdeteksi titik panas dalam 7 hari terakhir. Titik Panas Titik Panas (hotspot) terbanyak tersebar di Sulawesi dan sekitarnya, serta di Papua dan Maluku pada 31 Oktober 2026. BMKG mencatat titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang (medium) di Sulawesi sebanyak 1394, sedangkan di Papua dan Maluku 1194. Adapun titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high) berada di Papua dan Maluku sebanyak 49, sedangka di Sulawesi 22. Sebaran titik panas lainnya dengan kepercayaan sedang pada 31 Oktober 2026 di Kalimantan sebanyak 582, Nusa Tenggara 275, Sumatra 219, dan Jawa 63. Sebaran titik panas lainnya dengan kepercayaan tinggi di Kalimantan 18, Sumatra 13, Jawa 4 dan Nusa Tenggara 2. Deteksi titik panas BMKG dengan tingkat kepercayaan tinggi pada 30 Oktober 2026 (00.00–23.59 WIB) di Jawa (Jawa Timur) sebanyak 1 titik. Di Kalimantan terdeteksi sebanyak 101 titik yang tersebar di Kalimantan Selatan (2 titik), Kalimantan Tengah (14 titik), Kalimantan Timur (82 titik), dan Kalimantan Utara (3 titik). Di wilayah Nusa Tenggara tersebar di NTB (5 titik) dan NTT (4 titik). Sementara itu, di wilayah Papua dan Maluku tercatat sebanyak 24 titik yang seluruhnya berada di Papua Selatan (24 titik). Selain itu, di wilayah Sulawesi terdapat total 92 titik yang tersebar di Gorontalo (1 titik), Sulawesi Selatan (12 titik), Sulawesi Tengah (52 titik), dan Sulawesi Tenggara (27 titik). Dengan demikian, total nasional menjadi 227 titik. Sebaran Asap Sebaran asap terdeteksi di Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. BMKG mencatat asap lintas batas dari Papua Nugini ke Papua Selatan. Pada Sabtu 31 Oktober 2026, sebaran asap di wilayah Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan bergerak ke arah barat – barat laut. BMKG tidak mendeteksi adanya asap lintas batas (transboundary haze). Secara umum angin di Indonesia bertiup dari timur – Tenggara ke barat laut – utara. Kondisi dalam 24 jam terakhir, menurut BMKG, asap terdeteksi di wilayah Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. BMKG memantau adanya asap lintas batas dari Papua Nugini ke Papua Selatan. Sebaran asap bergerak ke arah Barat - Utara. Arah angin di Indonesia pada umumnya bertiup dari Timur - Tenggara ke Barat Laut - Utara. Dinamika Atmosfer Hasil monitoring BMKG pada Dasarian II Oktober 2026 menunjukkan indeks IOD dasarian (indeks bulanan) sebesar +0.765, (September : +0.72). Sementara itu, nilai Anomali SST di region Nino3.4 secara dasarian sebesar +3.19. Indeks ENSO (3 bulanan) untuk ASO (Agustus-September-Oktober) sebesar +3.05, menunjukkan El Nino event dengan intensitas sangat kuat. Kondisi tersebut secara umum dapat mengurangi suplai uap air menuju wilayah Indonesia dan mendukung kondisi yang lebih kering. Analisis atmosfer di wilayah Indonesia secara umum menunjukkan kondisi mendukung pembentukan awan hujan. Kondisi ini didukung oleh adanya aktivitas dinamika atmosfer seperti MJO yang secara spasial aktif melalui sebagian wilayah Sumatra bagian tengah-selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi bagian tengah-selatan, Maluku, dan Papua bagian tengah-timur. Selain itu, terdapat Gelombang Kelvin aktif di wilayah pesisir utara Aceh dan Gelombang Rossby Ekuatorial di Lampung dan Jawa bagian barat.