Rantai Pasok Terganggu, Kapal yang Berlayar di Laut Merah Mendapat Serangan Mematikan

Kapal-kapal yang berlayar dari dan menuju Laut Merah serta Terusan Suez mencakup 12 hingga 15 persen perdagangan global, menurut badan perdagangan PBB, UNCTAD. FOTO: UNDP/UN

Darilaut – Serangan terhadap sebuah kapal niaga di lepas pantai selatan Yaman —yang dilaporkan menewaskan beberapa pelaut pada hari Selasa— dapat memicu kembali kekhawatiran mendalam terkait perdagangan global, di tengah perang Iran-AS yang sedang berlangsung yang telah melumpuhkan pelayaran di Selat Hormuz.

Sebagaimana dketahui, Laut Merah merupakan jalur perdagangan global yang vital. Dengan adanya serangan tersebut menyebabkan ketidakpastian yang semakin besar bagi pelayaran

“Dengan rasa sedih dan penyesalan, saya mengetahui bahwa sekali lagi, para pelaut yang tidak bersalah kehilangan nyawa dalam serangan yang tidak dapat dibenarkan terhadap pelayaran internasional,” ujar Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO) Arsenio Dominguez, mengutip siaran pers UN News.

“Saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga para korban.”

“Sangat mengkhawatirkan bahwa serangan terbaru ini terjadi di wilayah Laut Merah dan Teluk Aden,” ujar Dominguez, seraya mencatat bahwa serangan berkelanjutan terhadap pelayaran “hanya akan meningkatkan ketegangan dan mengancam rantai pasok global yang menjadi tumpuan semua pihak.”

Penyampaian Dominguez menyusul serangan terhadap kapal kargo dek Tihamah, yang diduga dilakukan oleh kelompok bersenjata Houthi dari Yaman.

Konflik Yaman

Kelompok bersenjata non-negara tersebut telah memerangi pasukan Pemerintah Yaman, yang didukung oleh koalisi pimpinan Arab Saudi, selama lebih dari satu dekade.

Kelompok ini juga telah mengancam akan memblokade Selat Bab al-Mandab, jalur pelayaran utama menuju Laut Merah, dan menargetkan pelayaran di Laut Merah selama beberapa tahun terakhir—termasuk setelah pecahnya perang Hamas-Israel pada Oktober 2023—sebagai bentuk dukungan bagi warga Palestina di Gaza.

Pada tanggal 23 Juli, menurut laporan media, mereka mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi.

Menyusul serangan-serangan tersebut, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyatakan kekhawatiran mendalam atas kembali terjadinya serangan Houthi terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah serta ancaman baru terhadap navigasi maritim.

Menurut data registrasi kapal online, Tihamah berlayar dengan bendera Tanzania. Kapal ini memiliki panjang 62,8 meter dan lebar 11 meter.

Serangan di Tihamah terjadi di tengah terhentinya hampir seluruh aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur perairan vital yang menghubungkan dunia luar dengan berbagai negara Teluk, termasuk Iran dan Oman.

Data terbaru IMO menunjukkan bahwa hanya sekitar tujuh kapal yang melintasi selat tersebut pada hari Minggu; angka ini hampir 20 kali lebih rendah dibandingkan rata-rata harian sebelum perang.

Gangguan perdagangan global di selat tersebut—yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran serta serangan balasan Teheran di berbagai negara Teluk dan Yordania—telah menyebabkan ekspor komoditas utama seperti minyak, gas, dan bahan baku pupuk merosot tajam, sekaligus memicu kenaikan harga.

Evakuasi Ditangguhkan

Perang yang masih berlangsung juga memaksa penangguhan rencana evakuasi yang dikoordinasikan oleh IMO bagi para pelaut yang terjebak di dalam atau di dekat Selat Hormuz. Diperkirakan masih ada sekitar 6.000 awak kapal dan 500 kapal yang terjebak—hampir enam bulan sejak permusuhan dimulai—sementara baru sekitar 2.900 orang yang berhasil dievakuasi hingga saat ini.

Berdasarkan data pemantauan krisis Hormuz milik badan PBB tersebut, tercatat ada 65 insiden terkonfirmasi dan 17 pelaut tewas sejak awal Maret.

Dalam pernyataannya, pimpinan IMO juga menyerukan “pembebasan segera dan tanpa syarat bagi seluruh pelaut” yang ditawan akibat serangan pembajakan di wilayah Laut Merah dan Teluk Aden.

“Menjamin keselamatan pelaut merupakan kewajiban mendasar menurut hukum internasional sekaligus tanggung jawab bersama masyarakat global,” ujar Dominguez.

Exit mobile version