Namun, menurut Sekretaris Jenderal PBB, negara-negara berkembang masih kekurangan dukungan untuk menghadapi ancaman yang kian meningkat ini.
“Hari ini, saya menyerukan kepada setiap kota untuk membangun pertahanan jangka panjang terhadap panas ekstrem,” kata Guterres.
”Hal ini berarti seluruh elemen pemerintah—mulai dari sektor kesehatan, perumahan, energi, hingga transportasi—harus bekerja secara terpadu. Selain itu, rencana aksi penanganan panas harus sudah diterapkan paling lambat tahun 2030, serta didukung oleh sistem dan sumber daya yang memadai untuk mewujudkannya.”
Gelombang panas yang terjadi tahun ini di Asia, Eropa, dan Amerika Utara telah berdampak pada perekonomian, memicu kebakaran hutan yang mematikan, serta menyebabkan lonjakan polusi udara.
Fenomena El Niño yang semakin menguat—yang muncul menjelang musim panas di belahan bumi selatan—diperkirakan akan menyebabkan suhu panas yang lebih ekstrem lagi.
“Di WMO, kami memahami dari pengalaman bahwa El Niño secara harfiah meningkatkan suhu panas. Rekor baru suhu maksimum siang hari dan suhu minimum malam hari bukan sekadar angka pada termometer,” kata Celeste Saulo, Sekretaris Jenderal WMO.
”Tubuh, infrastruktur, lahan pertanian, dan rumah kita tidak dirancang untuk menghadapi suhu seperti yang kita alami saat ini.”




