Rektor UNG: Program KKN Ruang Belajar dan Pengabdian Mahasiswa

Rektor Universitas Negeri Gorontalo, Prof. Eduart Wolok, saat memberikan pembekalan kepada 1.518 mahasiswa UNG yang akan menjalankan program KKN Tematik Tahap II tahun 2026, pada Sabtu (8/8). FOTO: HUMAS UNG

Darilaut – Rektor Universitas Negeri Gorontalo, Prof. Eduart Wolok, mengatakan, Kuliah Kerja Nyata (KKN) bukan sekadar kewajiban akademik, akan tetapi menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari masyarakat sekaligus memberikan kontribusi nyata.

Hal ini disampaikan saat memberikan pembekalan kepada ribuan mahasiswa UNG, yang akan terjun melakukan program pengabdian kepada masyarakat melalui program KKN Tematik Tahap II tahun 2026, pada Sabtu (8/8).

Menurut Prof. Eduart, pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat akan memberikan pembelajaran yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas.

Karena itu, mahasiswa diharapkan mampu melihat berbagai persoalan di lokasi KKN secara objektif, kemudian merancang kontribusi yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi masyarakat.

Rektor meminta mahasiswa memanfaatkan 45 hari masa pengabdian sebagai ruang untuk memahami dinamika kehidupan masyarakat, menimba pengalaman, serta mengimplementasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan.

Jadikan masa 45 hari ini sebagai momentum untuk belajar langsung dari dinamika masyarakat, menimba ilmu, sekaligus memberikan solusi atas problematika yang dihadapi warga setempat,” kata Rektor.

Dalam menjalankan program kerja, mahasiswa diminta tetap berpegang pada tridarma perguruan tinggi, memahami batas kewenangan, serta aktif berkonsultasi dengan Dosen Pendamping Lapangan (DPL).

Setiap program juga harus dirancang dan dilaksanakan berdasarkan kondisi nyata masyarakat, bukan sekadar mengejar penyelesaian kegiatan.

“Jangan bekerja sendiri. Jika menghadapi persoalan atau membutuhkan arahan, segera berkoordinasi dengan DPL maupun LPPM,” ujar Prof. Eduart.

”Program yang dijalankan harus tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi masyarakat di lokasi KKN.”

Lebih dari sekadar menjalankan program, Rektor mengingatkan bahwa setiap mahasiswa KKN merupakan representasi UNG di tengah masyarakat. Sikap dan perilaku mahasiswa selama berada di desa akan turut menentukan bagaimana masyarakat memandang almamater.

Mahasiswa diminta menjaga etika, tutur kata, perilaku, serta menghormati masyarakat dan kearifan lokal yang berlaku di masing-masing wilayah.

“Jaga nama baik almamater. Etika, tutur kata, perilaku, dan kemampuan menghargai masyarakat merupakan bagian penting dari pengabdian. Ingat bahwa selama berada di lokasi KKN, saudara-saudara adalah representasi UNG,” ujarnya.

Rektor mengingatkan mahasiswa untuk tidak menjadikan KKN sebagai formalitas yang membebani. Sebaliknya, masa pengabdian harus dijalani dengan kegembiraan, semangat, dan rasa tanggung jawab.

“Jalani KKN dengan penuh tanggung jawab, jaga nama baik almamater, dan manfaatkan kesempatan ini untuk belajar serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” pesan Rektor.

Melalui KKN Tematik Tahap II Tahun 2026, UNG berharap mahasiswa tidak hanya pulang membawa pengalaman menyelesaikan program kerja, tetapi juga membawa pemahaman yang lebih mendalam tentang masyarakat, pengalaman memecahkan persoalan nyata, serta karakter sebagai insan akademis yang peduli terhadap lingkungan dan kehidupan sosial.

Sebanyak 1.518 mahasiswa UNG diterjunkan ke tengah masyarakat melalui KKN Tematik Tahap II tahun 2026.

Dengan mengusung tema “KKN Tematik Generasi Emas: Pencegahan Narkoba, Stunting, dan Penguatan Pangan Keluarga”, ribuan mahasiswa UNG tersebut disebar di 102 desa.

Program ini diarahkan untuk menghadirkan kontribusi nyata mahasiswa dalam menjawab berbagai persoalan strategis di masyarakat.

Exit mobile version