Rupiah Ambruk, Tingkatkan Ekspor Perikanan

Vaname

Udang Vaname. FOTO: DARILAUT.ID

Jakarta – Nilai tukar rupiah ambruk mendekati Rp 15 ribu per dollar AS menjadi peluang untuk meningkatkan ekspor perikanan Indonesia.

“Produk perikanan Indonesia yang berorientasi ekspor seperti udang, tuna, tongkol, cakalang dan kepiting mesti digenjot,” kata Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW)-Indonesia, Moh Abdi Suhufan, Selasa (4/9) malam.

Hari ini, mengutip Bloomberg, nilai rupiah ditutup pada level Rp 14.935 per dollar AS.

Abdi mengatakan, kondisi ini mesti dimanfaatkan pelaku usaha perikanan untuk menggenjot ekspor. Selain untuk menambah devisa, peningkatan ekspor perikanan menjadi ajang pembuktian bahwa Indonesia merupakan pemain utama perikanan dunia. Upaya peningkatan volume ekspor saat ini akan berdampak pada pencapaian target ekpor nasional tahun 2018.

Pembuktian tersebut, menurut Abdi, perlu diwujudkan dengan dominasi produk ikan Indonesia di pasar internasional. Pada 2017 nilai ekspor perikanan Indonesia mencapai US$ 4,51 miliar atau sekitar Rp 60,8 triliun (dengan kurs Rp 13,000).

Abdi mengatakan, pemerintah dan dunia usaha perikanan perlu bersinergi untuk manfaatkan peluang menguatnya mata uang dollar AS. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menargetkan nilai ekspor tahun ini sebesar US$ 5 miliar, angka yang mestinya optimis bisa dicapai dengan melihat iklim perdagangan dan pasar saat ini.

Menurut Abdi, pemerintah sebagai regulator perlu memantau aktvitas perdagangan ikan agar kebutuhan dalam negeri bisa terpenuhi. Sehingga tidak menimbulkan inflasi. “Sisi lain, peluang ekspor bisa dimanfaatkan secara optimal,” kata Abdi.*

Exit mobile version