Darilaut – Satelit Surya-1 (SS-1) yang siap mengorbit awalnya dirancang dan diproduksi oleh mahasiswa Surya University (Universitas Surya).
Mengutip Surya.ac.id, satelit nano atau cube satellite (cubesat) ini hanya berukuran 10 cm x 10 cm x 10 cm.
Meski berukuran kecil, satelit ini memiliki fungsi penting untuk transfer data, repeater komunikasi, dan sistem pelaporan paket otomatis (automatic package reporting system, APRS) untuk pengumpulan data bencana alam.
Satelit ini juga dapat digunakan sebagai sarana komunikasi bagi seluruh laboratorium universitas, perusahaan, dan amatir radio di seluruh Indonesia.
Kegunaan praktis lain dari satelit ini termasuk pelacakan posisi mobil, pejalan kaki, perahu nelayan, bahkan hotspot di hutan. Banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan hadirnya satelit.
SS-1 membuktikan kemampuan mahasiswa Indonesia dalam pembuatan satelit.
Dalam proses pembuatan satelit ini, tim dibantu oleh dosen Universitas Surya dan ahli dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang sekarang sudah bergabung di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI).
Ahli dari BRIN dan ORARI memberikan bimbingan dan pengetahuan mulai dari pembuatan satelit hingga peluncurannya.
Dengan program peluncuran satelit ini, kita dapat menunjukkan bahwa para sarjana Indonesia dapat bersaing dengan para sarjana dari seluruh dunia.
Indonesia adalah negara besar yang terdiri dari ribuan pulau dan beragam budaya yang membutuhkan komunikasi yang baik. Salah satunya melalui satelit untuk lebih mempererat tali persaudaraan.
Satelit di Indonesia sudah berdiri sejak tahun 1970, sejak peluncuran Satelit Palapa.
Dengan lebih mengembangkan keterampilan generasi muda untuk belajar dan meneliti tentang satelit, akan lebih mudah untuk bersaing dengan dunia.
Surya Satellite-1 akhirnya selesai 100 persen dan siap mengorbit. Peluncuran satelit nano buatan Indonesia menuju International Space Station (ISS) dilakukan oleh Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), pada Q3 atau Q4 tahun 2022.
Satelit diluncurkan dengan salah satu dari tiga opsi kargo luar angkasa, yaitu SpaceX Dragon, Cygnus, atau H-II Transfer Vehicle (HTV).
Saat ini, tim SS-1 sedang melengkapi safety document report untuk diserahkan kepada pihak peluncur.
Tim SS-1 juga telah melakukan Satellite Fit Check Test bersama JAXA dan United Nations Office for Outer Space Affairs (UNOOSA) di Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN.
