Sejarah World Tsunami Awareness Day, Edukasi Menyelamatkan Nyawa

Ilustrasi Goryo Hamaguchi, seorang pemimpin desa di Hirogawa, Prefektur Wakayama, yang membakar tumpukan padi hasil panennya untuk memperingatkan warga akan bahaya tsunami pada 5 November 1854. GAMBAR: The Cabinet Office of Japan

Darilaut – Tsunami dahsyat dipicu gempa bumi berkekuatan magnitudo 8,4 melanda Semenanjung Kii di Jepang, pada tanggal 5 November 1854.

Tercatat bahwa banyak nyawa terselamatkan dalam peristiwa tersebut ketika Goryo Hamaguchi, seorang pemimpin di sebuah desa kecil, membakar tumpukan jerami padi yang baru dipanen di ladangnya sendiri. Tindakan ini bertujuan untuk mengevakuasi dan menuntun penduduk desa menuju tempat yang lebih tinggi di tengah kegelapan.

Melansir UN News, peristiwa ini memiliki sejarah yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad.

Di Jepang, kisah ini dikenal sebagai “The Fire of Inamura” atau Api Inamura — api dari tumpukan jerami padi.

Pada Desember 2015, Majelis Umum PBB menetapkan tanggal 5 November sebagai Hari Kesadaran Tsunami Sedunia (World Tsunami Awareness Day). Penetapan ini didukung oleh 142 negara yang turut mensponsori resolusi yang disusun oleh Jepang—negara yang bekerja sama dengan negara-negara lain yang juga rentan terhadap bencana, serta berbagai mitra seperti UNISDR.

Inisiatif Jepang untuk meningkatkan kesadaran akan risiko tsunami melalui Hari Kesadaran Tsunami Sedunia tanggal 5 November, bukan hanya sekadar mengenang korban tsunami.

Tsunami adalah peristiwa yang jarang terjadi, namun sangat mematikan. Catatan menunjukkan bahwa antara tahun 1996 dan 2015, sebanyak 250.900 orang meninggal dunia di 21 negara yang terdampak oleh 30 peristiwa tsunami.

Yang paling menghancurkan di antaranya adalah Tsunami Samudra Hindia pada 26 Desember 2004, yang merenggut nyawa lebih dari 220.000 orang, termasuk 9.000 wisatawan asing. Tsunami di Jepang pada 11 Maret 2011 menyebabkan lebih dari 18.000 orang meninggal atau hilang.

Yuki Matsuoka, Kepala Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNISDR) di Jepang, mengatakan alih-alih memilih hari peringatan atau hari yang tragis—seperti tanggal 11 Maret 2011 atau 26 Desember 2024, tanggal 5 November dipilih sebagai hari yang ‘berorientasi ke masa depan’, yakni saat banyak nyawa berhasil diselamatkan berkat tindakan proaktif.

Tsunami, yang aslinya merupakan kata dari bahasa Jepang, kini telah umum digunakan dalam bahasa Inggris. Hal ini mencerminkan fakta bahwa masyarakat Jepang memiliki sejarah panjang dalam menghadapi ancaman tsunami, ujar Matsuoka.

“Jepang membangun ketangguhan masyarakatnya tidak hanya melalui langkah-langkah fisik (struktural), tetapi juga melalui langkah-langkah non-fisik (non-struktural),” kata Matsuoka.

Menurut Matsuoka, di Jepang, latihan evakuasi rutin diadakan setiap tahun dalam berbagai bentuk dan di berbagai tingkatan, baik atas inisiatif pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, maupun masyarakat setempat.

“Pengalaman yang terakumulasi ini telah berkontribusi dalam menghasilkan pengetahuan serta keahlian di bidang pengurangan risiko bencana, yang kemudian dapat dibagikan kepada komunitas internasional,” ujarnya.

Sebagai pengingat dan wadah penyimpanan keahlian tersebut, didirikanlah Inamura-no-Hi no Yakata—atau “Gedung Api Tumpukan Jerami Padi”—pada tahun 2007 di kota kecil Hirogawa, Prefektur Wakayama, tempat kelahiran Goryo Hamaguchi.

Jepang membangun ketangguhan masyarakatnya tidak hanya melalui langkah-langkah fisik, tetapi juga melalui langkah-langkah non-fisik.

“Tujuan utama penggunaan kisah ‘Api Inamura’ sebagai materi edukasi adalah agar setiap orang memahami pentingnya melakukan evakuasi dengan segera,” kata Kouichi Sakiyama, Direktur gedung tersebut, kepada UN News.

Sakiyama menjelaskan bahwa di wilayah yang rawan tsunami, berbagai langkah telah diambil untuk mencegah jatuhnya korban jiwa dan kerusakan, seperti pembangunan tembok laut, tanggul, dan struktur pelindung lainnya.

“Wajar jika masyarakat merasa aman saat melihat struktur-struktur besar dan kokoh tersebut, namun kenyataannya, mereka mungkin justru menjadi terlalu bergantung pada fasilitas-fasilitas itu,” ujarnya.

Ia memperingatkan bahwa kurangnya pemahaman mengenai mekanisme terjadinya tsunami dapat berujung pada tindakan yang keliru.

Kini setelah tanggal peristiwa Fire of Inamura ditetapkan sebagai Hari Kesadaran Tsunami Sedunia, gedung tersebut memikul tanggung jawab untuk menyebarluaskan pesan ke seluruh dunia bahwa evakuasi merupakan hal yang krusial saat terjadi tsunami.

Pendidikan dan latihan evakuasi merupakan komponen kunci untuk mencegah tsunami berkembang menjadi bencana besar dengan korban jiwa yang masif, kata Jerry Velasquez, Kepala Bagian Advokasi dan Penjangkauan di UNISDR.

“Sistem peringatan dini yang paling canggih secara teknologi sekalipun hanya akan efektif jika mampu menjangkau masyarakat luas dan memicu reaksi yang tepat terhadap peringatan tersebut,” ujarnya.

Berbagai inisiatif untuk meningkatkan kesadaran akan tsunami tengah dilaksanakan di seluruh dunia.

Kunci keberhasilannya dengan menyampaikan pesan peningkatan kesadaran tersebut tanpa menggunakan istilah-istilah teknis yang rumit (jargon). Akurasi ilmiah memang penting, namun pesan yang disampaikan harus sejelas mungkin bagi masyarakat umum agar tujuannya dapat tercapai.

Pelajaran Geografi

Menurut UNISDR, terdapat kisah serupa di belahan dunia lain. Seperti kisah Tilly Smith, seorang gadis asal Inggris yang pada usia 10 tahun berjasa menyelamatkan 100 wisatawan di sebuah resor di Thailand saat terjadi Tsunami Samudra Hindia pada 26 Sesember 2004.

Hal ini berkat pelajaran geografi di sekolahnya yang mengajarkannya tentang tanda-tanda akan datangnya tsunami.

Namun, dalam banyak situasi bencana, mengambil keputusan yang tepat tidaklah semudah contoh-contoh yang ada dalam buku pelajaran.

Berdasarkan laporan media Jepang, 74 siswa dan 10 guru di SD Okawa, Ishinomaki, Prefektur Miyagi, meninggal dunia atau masih dinyatakan hilang setelah tsunami tahun 2011. Keluarga dari 23 siswa yang menjadi korban menuntut pemerintah Prefektur Miyagi dan pemerintah kota Ishinomaki—yang mengelola sekolah-sekolah negeri tersebut—untuk memberikan kompensasi.

Pihak penggugat berpendapat bahwa pihak sekolah telah lalai karena tidak mengevakuasi para siswa ke sebuah bukit di belakang sekolah, tempat yang seharusnya memberikan peluang lebih besar untuk selamat dari gelombang mematikan. Pihak tergugat berargumen bahwa bukit tersebut tidak memadai sebagai lokasi evakuasi karena terdapat risiko pohon tumbang.

Dengan meningkatkan kesadaran akan tsunami melalui Hari Kesadaran Tsunami Sedunia (World Tsunami Awareness Day), kita dapat menyelamatkan nyawa dan memitigasi kerusakan dahsyat yang diakibatkan oleh tsunami, kata Matsuoka.

Exit mobile version