Yang paling menghancurkan di antaranya adalah Tsunami Samudra Hindia pada 26 Desember 2004, yang merenggut nyawa lebih dari 220.000 orang, termasuk 9.000 wisatawan asing. Tsunami di Jepang pada 11 Maret 2011 menyebabkan lebih dari 18.000 orang meninggal atau hilang.
Yuki Matsuoka, Kepala Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNISDR) di Jepang, mengatakan alih-alih memilih hari peringatan atau hari yang tragis—seperti tanggal 11 Maret 2011 atau 26 Desember 2024, tanggal 5 November dipilih sebagai hari yang ‘berorientasi ke masa depan’, yakni saat banyak nyawa berhasil diselamatkan berkat tindakan proaktif.
Tsunami, yang aslinya merupakan kata dari bahasa Jepang, kini telah umum digunakan dalam bahasa Inggris. Hal ini mencerminkan fakta bahwa masyarakat Jepang memiliki sejarah panjang dalam menghadapi ancaman tsunami, ujar Matsuoka.
“Jepang membangun ketangguhan masyarakatnya tidak hanya melalui langkah-langkah fisik (struktural), tetapi juga melalui langkah-langkah non-fisik (non-struktural),” kata Matsuoka.
Menurut Matsuoka, di Jepang, latihan evakuasi rutin diadakan setiap tahun dalam berbagai bentuk dan di berbagai tingkatan, baik atas inisiatif pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, maupun masyarakat setempat.




