Sejumlah Wilayah di Indonesia Menuju Musim Kemarau

Prediksi sifat Musim Kemarau 2026. GAMBAR: BMKG

Darilaut – Monsun Australia diprediksi menguat dalam beberapa hari mendatang. Hal ini ditunjukkan oleh dominasi angin timuran pada pola angin zonal di sebagian besar wilayah Indonesia.

Kondisi tersebut berpotensi membawa massa udara yang lebih kering dari Australia ke wilayah Indonesia, sekaligus mengindikasikan bahwa beberapa daerah mulai memasuki masa peralihan secara bertahap dari musim hujan menuju musim kemarau, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Direktorat Meteorologi Publik BMKG mengatakan suhu maksimum harian yang relatif tinggi teramati di sejumlah wilayah, antara lain Kalimantan Timur (37.1°C), Kalimantan Utara (36.6°C), Sulawesi Tengah (36.2°C), Papua (36.0°C) dan Kalimantan Barat (36.6°C).

Pemanasan pada siang hari masih berlangsung cukup kuat di beberapa wilayah. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh intensitas radiasi matahari pada siang hari yang masih cukup tinggi, serta mulai menguatnya monsun Australia.

Monsun ini biasa ditandai dengan dominasi angin timuran, yang membawa massa udara relatif lebih kering.

Dampaknya, tutupan awan pada pagi hingga siang hari cenderung berkurang sehingga radiasi matahari dapat diterima lebih optimal di permukaan dan mendorong peningkatan suhu udara.

Potensi Hujan

Dalam sepekan kedepan, kata BMKG, hujan masih berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia. Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi masih berada di fase 2 (Indian Ocean) dan melewati sebagian besar Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Jawa bagian barat, sebagian kecil Bali, NTT, dan NTB.

Gelombang Kelvin yang bergerak ke arah timur juga diprediksi aktif di sebagian wilayah besar wilayah Sumatera, Kalimantan, Jawa Timur, Bali, NTT, NTB, Sulawesi bagian utara, Maluku dan Papua bagian utara.

Begitu pula dengan Gelombang Rossby Ekuatorial yang diprediksi aktif di sebagian wilayah Sumatera bagian utara dan selatan, Maluku, dan Papua. Keberadaan gangguan atmosfer tersebut berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan di wilayah-wilayah yang disebutkan, khususnya sebagian besar Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku bagian selatan dan tenggara, dan Papua.

Pada skala meso, Bibit siklon tropis dan sirkulasi siklonik juga mempengaruhi pola cuaca di wilayah Indonesia. Bibit Siklon 92W diprediksi masih berada di Samudra Pasifik utara Papua, dengan kecepatan angin maksimum sebesar 15 knot, tekanan udara minimum sebesar 1008 hPa (hektopaskal), dengan arah gerak ke barat.

Selain itu, sirkulasi siklonik juga diprediksi terbentuk di Perairan Barat Laut Aceh, Selat Malaka bagian utara, Perairan Barat Bengkulu, di Selat Makassar, dan di Laut Banda. Sistem-sistem tersebut membentuk daerah konvergensi dan konfluensi yang memanjang di Perairan Barat Laut Aceh, di Selat Makassar, Laut Maluku, Maluku, Laut Seram, di Laut Banda, dan di wilayah sekitar sistem-sistem tersebut.

Daerah konvergensi lain juga diprediksi terbentuk di Perairan Barat Laut Aceh, di Selat Makassar, Laut Maluku, Maluku, Laut Seram, di Laut Banda, dan di wilayah sekitar sistem-sistem tersebut. Kondisi ini dapat meningkatkan potensi pembentukan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi atau konfluensi tersebut.

Exit mobile version