Darilaut – Dalam beberapa tahun terakhir, produksi rumput laut Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berada pada kisaran 1,4 – 2,1 juta ton per tahun. Jumlah ini menyumbang sekitar 15 persen produksi nasional dan menempatkan NTT salah satu sentra utama produksi rumput laut di Indonesia.
Namun, di balik besarnya potensi tersebut, masih terdapat tantangan yang perlu dijawab bersama. Mulai dari konsistensi kualitas produksi, ketertelusuran produk, hingga penerapan praktik budidaya yang mampu menjaga kesehatan ekosistem pesisir dalam jangka panjang.
Karena itu, peningkatan kapasitas dan pemahaman terhadap standar budi daya menjadi semakin penting.
Upaya tersebut menjadi salah satu fokus dalam Bimbingan Teknis Cara Budi Daya Ikan yang Baik (CBIB) untuk komoditas rumput laut yang diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).
Kegiatan yang berlangsung di Kupang pada 10–11 Juni 2026, diikuti oleh perwakilan pemerintah daerah dan 20 pembudidaya rumput laut dari Kabupaten Kupang, Rote Ndao, dan Sabu Raijua.
Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT Stefania T. Boro, menyampaikan bahwa pemerintah daerah terus mendorong peningkatan kualitas sektor budi daya sebagai salah satu pilar pembangunan ekonomi kelautan daerah.



