Status operasional masing-masing bandara dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik serta informasi resmi dari otoritas penerbangan.
Tidak hanya abu vulkanik, asap akibat kebakaran hutan dan lahan juga masih meliputi sebagian wilayah Indonesia.
Hasil monitoring BMKG melalui citra satelit cuaca pada 7 September 2026 pukul 16.00 WIB, asap terdeteksi di Provinsi Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Kondisi ini didukung oleh atmosfer yang masih relatif kering akibat musim kemarau.
Tidak hanya itu, monitoring Dasarian III Agustus 2026 menunjukkan bahwa El Niño masih aktif dengan kategori sangat kuat. Kondisi ini semakin mengurangi potensi pembentukan awan hujan secara signifikan, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan.
Kondisi curah hujan yang rendah ditandai oleh Hari Tanpa Hujan (HTH) yang berada pada kategori panjang hingga ekstrem panjang di sejumlah wilayah, seperti Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, yang mencatat HTH hingga 122 hari, serta Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, dengan HTH hingga 121 hari.
Selain itu, suhu maksimum di atas 36°C tercatat di Kalimantan Timur, Lampung, dan Jawa Tengah pada 4–6 September 2026. Kombinasi kondisi kering dan suhu udara maksimum yang tinggi tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat meningkatkan kerentanan wilayah terhadap kebakaran hutan dan lahan, terutama pada daerah dengan bahan bakar vegetasi yang mudah terbakar.



