Darilaut – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan adanya tentara bayaran dunia maya di tengah lonjakan penggunaan alat-alat digital yang dipersenjatai.
Menurut Sekjen PBB, aktivitas dunia maya yang berbahaya sedang meningkat, dan insiden keamanan siber yang serius menjadi “sangat umum”.
Layanan publik penting seperti kesehatan, perbankan, dan telekomunikasi sering kali dilanggar, dan organisasi kriminal serta “tentara bayaran dunia maya” terus-menerus melakukan aktivitas terlarang.
Selain itu, “pasukan pedagang kebencian” menyebarkan ketakutan dan perpecahan secara online.
“Orang-orang sipil yang disebut ‘hacktivists’ mulai terlibat, dan dalam banyak kasus mengaburkan batas antara kombatan dan warga sipil,” katanya, pada 18 Juni 2024.
Sekjen Guterres pada Kamis 18 Juni 2024 menyoroti sifat dunia maya yang bermata dua. Di satu sisi, potensinya untuk memberikan manfaat yang sangat besar dan risiko yang signifikan jika disalahgunakan.
Pada debat tingkat tinggi Dewan Keamanan mengenai perkembangan ancaman di dunia maya, yang diselenggarakan oleh Republik Korea, Guterres menggarisbawahi kekuatan transformatif dari teknologi digital.
“Terobosan dalam teknologi digital terjadi dengan sangat cepat; kemajuan digital merevolusi perekonomian dan masyarakat,” katanya.
“Mereka menyatukan masyarakat, memberi masyarakat akses terhadap layanan dan lembaga pemerintah, serta meningkatkan perekonomian, perdagangan, dan inklusi keuangan.”
Namun, Guterres mengingatkan bahwa konektivitas yang lancar dan instan yang memberikan manfaat ini juga membuat masyarakat, institusi, dan negara menjadi rentan.
“Bahaya penggunaan teknologi digital semakin meningkat dari tahun ke tahun,” kata Guterres, memperingatkan.
“Aktivitas jahat di dunia maya sedang meningkat baik yang dilakukan oleh aktor negara maupun non-negara serta pelaku kejahatan.”
Kerentanan Baru
Integrasi alat digital dengan sistem senjata, termasuk sistem otonom, menghadirkan kerentanan baru, kata Guterres.
Penyalahgunaan teknologi digital menjadi semakin canggih dan tersembunyi, seiring dengan menjamurnya perangkat lunak malware. Ancaman ini semakin diperkuat oleh operasi siber yang didukung oleh kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
“Ransomware adalah salah satu contoh yang menyedihkan,” ujar Sekjen PBB, “sebuah ancaman besar terhadap lembaga-lembaga publik dan swasta serta infrastruktur penting yang menjadi sandaran masyarakat.”
Pada tahun 2023, total pembayaran ransomware mencapai $1,1 miliar.
Selain kerugian finansial, aktivitas siber yang jahat juga melemahkan institusi publik, proses pemilu, dan integritas daring, mengikis kepercayaan, memicu ketegangan, dan menabur benih kekerasan dan konflik, kata Sekjen PBB.
(Ransomware adalah jenis virus dan program jahat atau malware berbahaya yang digunakan untuk mengenkripsi dan menghancurkan atau memblokir data pengguna pada suatu perangkat komputer atau jaringan, Redaksi).
