Hutan bakau merupakan habitat bagi lebih dari 1.500 spesies, sekitar 15 persen di antaranya terancam punah, demikian temuan laporan terbaru dari UNEP.
Tsunami di Samudera Hindia pada tahun 2004 menewaskan lebih dari 30.000 orang di Sri Lanka.
Sementara sebagian garis pantai rentan terhadap tsunami karena sekitar sepertiga hutan bakau di Sri Lanka telah ditebangi, terutama untuk dijadikan tambak udang dan tambak garam.
Budidaya udang merupakan sumber lapangan kerja yang penting bagi masyarakat pesisir dan pendapatan ekspor bagi negara.
Namun praktik yang tidak berkelanjutan dapat menyebabkan polusi dan penyakit di sektor perikanan dan banyak tambak udang yang terbengkalai.
Memelihara Alam
Setelah tsunami, Sri Lanka melakukan upaya massal untuk memulihkan hutan bakau. Namun, karena hampir tidak ada tanaman yang bertahan, negara ini mengubah taktik dari mencoba menanam kembali hutan bakau menjadi lebih melindungi hutan bakau yang ada agar dapat tumbuh kembali secara alami.
Pada tahun 2015, Sri Lanka menjadi negara pertama yang secara hukum melindungi seluruh hutan bakau yang tersisa.
Pemerintah juga meluncurkan program nasional untuk memulihkan ribuan hektar lahan yang hilang dan menunjuk sebuah komite ahli untuk memberikan panduan dan memastikan bahwa restorasi kali ini akan berhasil.




