Selain saponin, teripang hitam juga mengandung peptida bioaktif yang berpotensi sebagai antidiabetes, antihipertensi, dan antimikroba. Temuan ini semakin memperkuat posisi teripang sebagai bahan baku alami yang multifungsi bagi industri kesehatan.
“Kandungan senyawa aktif teripang ini mendukung pengembangan bahan baku alami untuk terapi degeneratif, seperti kanker, diabetes, maupun penuaan dini,” ujar Nursid, seperti dikutip dari Brin.go.id.
Keunggulan lain dari senyawa bioaktif teripang adalah stabilitasnya yang tinggi terhadap panas dan proses pengolahan. Stabilitas ini membuka peluang lebih luas untuk mengolah teripang menjadi produk suplemen kesehatan, pangan fungsional, hingga bahan kosmetika antiaging.
“Ini memberi kesempatan industri untuk mengembangkan produk yang aman dan stabil, bahkan melalui proses pemanasan tinggi.”
Dari sisi keamanan, hasil uji toksikologi yang telah dilakukan BRIN menunjukkan bahwa ekstrak teripang hitam aman dikonsumsi. Tidak hanya tidak menimbulkan efek negatif, namun juga memberikan dampak positif pada sistem pencernaan ketika dikonsumsi dalam dosis yang tepat.
“Kami ingin memastikan bahan alami yang dikembangkan tidak hanya efektif secara biologis, tetapi juga aman digunakan dalam jangka Panjang.”
Riset ini juga sejalan dengan agenda besar BRIN dalam mendorong hilirisasi riset. Menurut Nursid, potensi teripang sangat besar untuk diterapkan di sektor industri, baik sebagai suplemen kesehatan, bahan kosmetik antiaging, maupun komponen farmasi herbal. Namun demikian, ia menegaskan bahwa seluruh pengembangan harus diiringi dengan praktik konservasi dan budi daya berkelanjutan guna menjaga keseimbangan ekosistem laut.




