Darilaut – Dalam sepekan terakhir, terjadi banjir di sejumlah daerah di Pulau Sumatera dan Jawa.
Di Sumatera Barat, banjir bandang melanda beberapa titik di Kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan, Jumat (30/10). Kejadian ini mengakibatkan puluhan rumah rusak dan terendam.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok Selatan menginformasikan wilayah terdampak di tiga nagari atau desa yakni Sako Utara Pasia Talang, Jorong Laweh Barat dan Jorong Laweh Timur. Banjir bandang merusak 20 unit rumah dengan tingkat berbeda.
Petugas BPBD setempat masih melakukan pendataan tingkat kerusakan rumah. Di samping itu, genangan tampak merendam 10 unit rumah, 1 polindes dan 1 masjid. Tidak ada korban jiwa akibat kejadian ini.
Di Kebumen, Jawa Tengah, BPBD mencatat banjir dan tanah longsor pada Jumat (30/10) pukul 13.40 WIB. Sebanyak 2.107 warga mengungsi. Banjir di Kebumen terjadi sejak Senin (26/10) berdampak di 13 kecamatan.
Di Desa Wana Sari, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten, Jumat (30/10) juga terjadi hujan dan pergerakan atau patahan tanah yang berakibat terjadinya longsor.
Laporan BPBD Kabupaten Lebak, peristiwa tersebut terjadi dan berdampak pada bangunan sekolah, yakni SMAN 3 Cibeber, dengan kerusakan dua ruang kelas berukuran 8×9 meter, satu ruang perpustakaan berukuran 8×9 meter dan satu bangunan musala.
Banjir yang terjadi sejak Senin (26/10) di Kabuoaten Cilacap, Jawa Tengah, meluas. Curah hujan tinggi memicu meluapnya empat sungai masing-masing Sungai Tipar, Sungai Gatel, Sungai Kolong dan Sungai Kawah Kembang.
BPBD Kabupaten Cilacap melaporkan adanya penambahan jumlah warga terdampak banjir hingga Kamis (30/10) menjadi 2.695 KK atau 7.949 jiwa.
Dampak La Nina
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan tingkat intensitas curah hujan di penghujung tahun 2020 dan awal tahun 2021 terjadi peningkatan hingga mencapai 40 persen akibat dampak fenomena La Nina.
BMKG telah mengeluarkan data prakiraan cuaca yang menyebutkan bahwa hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah seperti Banten.
Prakiraan cuaca serupa juga berlaku untuk sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Papua.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta agar pemangku kebijakan dan masyarakat di daerah dapat melakukan upaya mitigasi bencana dan segera mengambil tindakan yang dianggap perlu dalam kaitan pengurangan risiko bencana terkait dampak dari fenomena La Nina, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, pergerakan tanah, angin puting beliung dan angin kencang.
Sementara itu, di Sukabumi, Sungai Cipanje meluap dan merendam rumah penduduk dan puluhan hektar sawah di Desa Buni Asih, Kecamatan Tegalbuleued, Senin (26/10).
Hujan deras juga mengguyur Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (26/10) menyebabkan perumahan di Bekasi Timur banjir dan sejumlah pohon tumbang di beberapa titik.
Banjir juga menggenangi puluhan rumah di Desa Jayagiri Kabupaten Cianjur Jawa Barat, Senin (26/10).
Bencana banjir melanda sejumlah desa di Kecamatan Munjungan, Trenggalek. Sejumlah fasilitas pemerintahan seperti kantor kecamatan ikut terendam banjir.
Banjir dan longsor terjadi di Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas Rabu (28/10).
Di DKI Jakarta, banjir merendam sejumlah tempat di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.
Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang berpotensi terjadi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) Minggu (1/11).
Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG, hal itu sekaligus dapat memicu terjadinya bencana alam seperti banjir, banjir bandang, angin puting beliung, angin kencang dan tanah longsor.
Karena itu, perlu adanya upaya pencegahan dan diantisipasi dengan baik agar kemudian tidak menimbulkan korban jiwa.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo meminta pemangku kebijakan wilayah Jabodetabek untuk melakukan upaya antisipasi dan langkah kesiapsiagaan.
Doni juga meminta agar pesan tersebut dapat diteruskan ke seluruh jajaran pemerintah daerah hingga tingkat RT/RW.
“Infokan ke semua Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Minta mereka teruskan sampai tingkat RT dan RW,” ujar Doni.
Doni juga meminta agar masyarakat yang berada di wilayah bantaran sungai agar selalu meningkatkan kewaspadaan dan selalu mengikuti perkembangan informasi terkini dari pemerintah maupun instansi terkait.
