Darilaut – Untuk mengembalikan fungsi ekologis tidak cukup hanya dengan menghentikan eksploitasi hutan saja tidak cukup. Perlu dilakukan pemulihan berbasis bentang alam.
Runtuhnya ekosistem hutan tidak terjadi secara tiba-tiba karena berlangsung melalui proses spasial secara bertahap, sering kali luput dari perhatian publik maupun pengambil kebijakan.
Peneliti Ahli Utama Konservasi Keanekaragaman Hayati Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Hendra Gunawan, mengatakan, bahwa menghentikan eksploitasi hutan saja tidak otomatis menyelesaikan persoalan.
Banyak ekosistem yang telah terdegradasi membutuhkan langkah pemulihan yang jauh lebih sistematis dan terintegrasi.
“Penghentian eksploitasi itu penting, tetapi tidak cukup. Ekosistem yang sudah rusak perlu dipulihkan dengan pendekatan terpadu lintas sektor dan berbasis bentang alam,” ujar Prof. Hendra mengutip Brin.go.id.
Prof. Hendra menjelaskan bahwa kebijakan pengelolaan hutan tidak bisa lagi berjalan secara parsial. Diperlukan konsistensi kebijakan antar sektor, integrasi antara konservasi, restorasi dan pembangunan, serta kolaborasi nyata antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.
Tanpa sinergi tersebut, upaya pemulihan akan terfragmentasi dan tidak menyentuh akar persoalan.
Prof. Hendra menekankan pentingnya keberanian untuk mengevaluasi paradigma yang cenderung eksploitatif.
“Selama hutan dipahami hanya sebagai sumber daya ekonomi, kita akan terus terjebak dalam siklus kerusakan dan bencana,” katanya.
Menurut Prof. Hendra, banjir bandang yang berulang merupakan pesan keras dari alam. Jika cara pandang terhadap hutan tidak berubah, bencana ekologis akan terus berulang dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sebaliknya, apabila hutan ditempatkan sebagai sistem penyangga kehidupan, maka arah pembangunan dapat disusun untuk menjaga resiliensi ekosistem sekaligus memastikan keberlanjutan kesejahteraan manusia.
Melalui perspektif ilmiah ini, BRIN mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk membaca banjir bandang bukan sebagai peristiwa insidental, melainkan refleksi dari kondisi sistem alam.
“Sudah saatnya kita belajar dari alam, sebelum alarm ekologis ini berubah menjadi keruntuhan yang tidak lagi dapat dipulihkan,” ujarnya.
