Darilaut – Peneliti Ahli Utama Konservasi Keanekaragaman Hayati Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Hendra Gunawan, menjelaskan bahwa keruntuhan ekosistem hutan tidak terjadi secara tiba-tiba.
Runtuhnya ekosistem hutan salah satu penyebab banjir bandang berulang di berbagai wilayah di Indonesia. Hal ini tidak bisa hanya dipandang semata sebagai bencana akibat hujan ekstrem atau berkurangnya tutupan pohon.
Kondisi ini berlangsung melalui proses spasial secara bertahap, sering kali luput dari perhatian publik maupun pengambil kebijakan.
“Perubahan lanskap hutan itu gradual. Awalnya mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya terakumulasi,” ujarnya.
Prof. Hendra mengatakan ada 5 proses spasial yang dapat mengubah matriks lanskap hutan.
Pertama fragmentasi, ketika hutan yang sebelumnya utuh terpecah menjadi bagian-bagian (fragmen) kecil dan terisolasi. Fragmen-fragmen hutan ini kehilangan konektivitas ekologis, sehingga pergerakan satwa dan aliran genetik terganggu.
Kedua adalah dissection, yakni ketika lanskap hutan terbelah oleh jalan raya atau infrastruktur linear lainnya.
“Begitu ada jalan yang membelah, secara ekologis hutan itu sudah tidak lagi utuh. Terpisah menjadi dua bagian yang rentan terhadap gangguan antropogenik, efek tepi dan isolasi populasi satwa tertentu,” ujarnya seperti dikutip dari Brin.go.id.




