Narelle telah bergerak ke arah barat daya dengan kecepatan 20 km per jam (11 knot) selama 6 jam terakhir. Tinggi gelombang signifikan maksimum adalah 5,5 meter (18 kaki), kata Pusat Peringatan Topan Gabungan (JTWC).
JTWC mengatakan intensitas puncak diperkirakan mencapai 185 km per jam (100 knot). Setelah itu, peningkatan geser angin dan masuknya udara kering secara bertahap akan mulai melemahkan sistem secara perlahan tepat sebelum mencapai daratan.
Sistem ini diperkirakan akan mencapai daratan dengan intensitas 175 km per jam (95 knot), kemudian dengan cepat turun menjadi 140 km per jam (75 knot).
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Narelle masih dapat memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca dan perairan di wilayah Indonesia dalam 24 jam ke depan hingga 25 Maret 2026 pukul 19.00 WIB.
Dampak tersebut, kata BMKG, berupa hujan sedang – lebat di Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Kemudian, angin Kencang di Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Tinggi gelombang kategori sedang (1,25 – 2,5 m) di Laut Arafura bagian barat, perairan Kepulauan Semata hingga Kepulauan Leti, Laut Sawu, perairan selatan Pulau Bali hingga Pulau Sumbawa, perairan selatan Jawa Timur, Samudra Hindia selatan Bali, dan Samudra Hindia selatan Jawa Timur.




