Sementara itu, Simon Stiell, pejabat tinggi PBB untuk perubahan iklim, mengatakan pada hari Jumat bahwa kunci untuk melindungi masyarakat dari bencana iklim yang meningkat – termasuk kebakaran hutan – adalah dengan mempercepat transisi ke energi terbarukan.
“Tindakan sekarang adalah dasar perdamaian dan keamanan jangka panjang di seluruh dunia,” kata Stiell.
Dampak Kobaran Api
Asap dari kebakaran hutan dapat memperburuk kondisi jantung dan pernapasan, terutama bagi orang lanjut usia, anak-anak, wanita hamil, dan mereka yang menderita penyakit kronis, WHO memperingatkan.
Menurut WHO, partikel debu dari asap kebakaran hutan berkontribusi pada berbagai kondisi kesehatan, termasuk penyakit paru-paru, penyakit hati, dan infeksi mata, serta gangguan kognitif dan kehilangan ingatan.
Kebakaran hutan juga dapat mengganggu akses ke layanan kesehatan dan layanan publik lainnya serta memengaruhi kesehatan mental.
WHO menyarankan orang-orang yang tinggal di atau bepergian melalui daerah yang mengalami kebakaran hutan untuk mengikuti saran resmi, menjauh dari api yang aktif jika aman, menghindari perjalanan yang tidak perlu, dan mengenakan masker pelindung yang pas jika mereka harus keluar rumah.
Pemerintah harus memberikan peringatan cuaca tepat waktu, saran kesehatan yang jelas, dan perawatan primer dan darurat yang mudah diakses, selain bantuan khusus bagi mereka yang paling berisiko, kata WHO.



