Darilaut – Peristiwa tanah longsor telah mengubur 2.000 orang dalam keadaan hidup di Provinsi Enga, Papua Nugini, negara yang terletak di timur Pulau Papua.
The Associated Press melaporkan telah melihat surat kepada koordinator residen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Minggu (26/5), penjabat Direktur Pusat Bencana Nasional Papua Nugini, Luseta Laso Mana, mengatakan tanah longsor “mengubur lebih dari 2.000 orang hidup-hidup” dan menyebabkan “kehancuran besar” di desa Yambali, Provinsi Enga.
Desa yang berpenduduk sedikitnya 4.000 jiwa ini, namun diyakini jauh lebih besar, berada di kawasan pegunungan dan hutan. Lokasinya terletak di sepanjang jalan raya berkelok-kelok menuju kota Porgera dan sebuah tambang emas yang telah menghasilkan miliaran dolar, namun personel keamanannya telah dituduh melakukan pelanggaran oleh kelompok hak asasi manusia.
Jalan raya tertutup tanah longsor, sehingga memotong Porgera dan desa-desa lain setelah Yambali dari ibu kota Provinsi Wabag, sekitar 60 kilometer (35 mil) dari lokasi bencana.
Perkiraan jumlah korban sangat bervariasi sejak bencana terjadi, dan tidak jelas bagaimana para pejabat dapat mengetahui jumlah orang yang terkena dampak.
Pada Jumat (24/5) pekan lalu, saat dini hari ketika warga desa Yambali sedang terlelap tidur, sisi gunung runtuh.
Pemukiman ini terletak di daerah yang bergolak dan terpencil di pedalaman negara miskin dan pedesaan di lepas pantai utara Australia, sehingga membuat upaya pencarian dan penyelamatan menjadi rumit dan berbahaya.
Sejauh ini hanya enam orang yang berhasil ditemukan. Dari enam orang selamat, terdapat sepasang suami istri.
Menurut Aljazeera.com, sepasang suami istri ditemukan hidup tiga hari setelah tanah longsor melanda Papua Nugini.
Hanya enam jenazah yang berhasil diselamatkan sejak tanah longsor terjadi pada hari Jumat. PBB mengatakan jumlah kemungkinan kematian dapat berubah karena upaya penyelamatan diperkirakan akan terus berlanjut selama berhari-hari.
Namun dalam perkembangan yang mengejutkan pada hari Senin, warga menyelamatkan pasangan tersebut setelah mendengar teriakan minta tolong mereka.
Johnson dan Jacklyn Yandam mengatakan kepada jaringan NBC News PNG bahwa mereka sangat berterima kasih dan menggambarkan penyelamatan mereka “sebagai sebuah keajaiban”.
“Kami berterima kasih kepada Tuhan karena menyelamatkan hidup kami pada saat itu. Kami yakin kami akan mati tetapi batu-batu besar tidak menghancurkan kami,” kata Jacklyn.
“Sulit dijelaskan karena kami terjebak selama hampir delapan jam, lalu diselamatkan. Kami percaya kami diselamatkan untuk suatu tujuan.”
Mengutip NHK, rekaman pada hari Minggu di utara Enga menunjukkan masyarakat setempat hanya menggunakan sekop dan tongkat untuk menemukan orang hilang. Alat berat belum tiba.
Kepala Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), mengatakan bahwa komunitas sekitar 600 kilometer barat laut ibu kota, Port Moresby, terkubur di bawah tanah sedalam 6 hingga 8 meter.
Risiko tanah longsor lebih lanjut dan serangkaian konflik suku mempersulit upaya penyelamatan.
Negara tetangganya, Australia, sedang mempertimbangkan bantuan apa yang dapat diberikannya sebagai tanggapan atas seruan negara Pasifik tersebut untuk meminta bantuan dari komunitas internasional.
Sumber: Apnews.com, Aljazeera.com dan Nhk.or.jp
