Temuan Tim Peneliti UNG Geomorfologi Tepi Kanan Bendungan Bulango Ulu Rentan Longsor dan Erosi

Bendungan Bulango Ulu di Kecamatan Bulango Utara, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Penelitian geomorfologi regional di wilayah Gorontalo sudah banyak dilakukan, namun studi dengan berfokus pada zona infrastruktur, khususnya tepi kanan Bendungan Bulango Ulu, belum ada.

Bendungan Bulango Ulu berada di Kecamatan Bulango Utara Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.

Hasil penelitian tim Geological Engineering Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menemukan klasifikasi morfometrik menunjukkan bahwa lereng curam (30–70%) dan sangat curam (70–140%) mendominasi lebih dari separuh wilayah studi. Hal ini memperlihatkan kerentanan terhadap bahaya longsor dan erosi, terutama selama musim puncak hujan.

Tim peneliti Geological Engineering UNG tersebut masing-masing Muhamad Danial Suma, Yayu Indriati Arifin, dan Noviar Akase.

Studi terbaru ini mengkaji karakteristik geomorfologi daerah tepi kanan Bendungan Bulango Ulu untuk mendukung perencanaan infrastruktur, penilaian risiko, dan pemanfaatan lahan berkelanjutan.

Geomorfologi sangat penting untuk memahami proses dan bentuk permukaan bumi, terutama di wilayah yang mengalami perubahan lingkungan dan geologi yang dinamis.

Peta lokasi penelitian. GAMBAR: Suma, dkk (2025)

Penerapan pengetahuan geomorfologi dalam perencanaan infrastruktur, khususnya pembangunan bendungan, sangat penting untuk mengidentifikasi karakteristik bentuk lahan, menilai potensi bahaya, dan memastikan stabilitas struktural bendungan.

Penelitian mencakup klasifikasi unit geomorfologi, identifikasi litologi, dan analisis potensi bahaya, dengan implikasi langsung terhadap perencanaan konstruksi, penggunaan lahan, dan mitigasi risiko lingkungan.

Hasil identifikasi pola drainase sub-dendritik menunjukkan bahwa struktur geologi memainkan peran penting dalam mengarahkan limpasan permukaan dan transpor sedimen.

Kebaruan penelitian ini terletak pada penilaian geomorfologi yang terlokalisasi dan terperinci, yang sebelumnya belum pernah dilakukan di tepi kanan bendungan, tulis peneliti dalam jurnal Jambura Geoscience Review, Vol. 7, No. 2, July 2025, dengan judul “Geomorphological Analysis of the Right Bank Area of Bulango Ulu Dam, Gorontalo Province Using Geological and DEM-Based Terrain Evaluation.”

Temuan ini memiliki implikasi praktis bagi keamanan bendungan, strategi penguatan lereng, dan perencanaan tata ruang regional dalam kondisi geologi yang dinamis.

Penelitian menggunakan metode terpadu melalui observasi lapangan dan analisis Model Elevasi Digital (DEM). Penelitian mengidentifikasi dua unit geomorfologi utama: Perbukitan Rendah Struktural (S1) dan Dataran Fluvial (F1). Unit-unit ini dibentuk oleh pengaruh gabungan proses endogenik, seperti pengangkatan tektonik dan deformasi struktural, serta proses eksogenik, termasuk erosi fluvial, sedimentasi, dan pelapukan.

Analisis litologi menunjukkan keberadaan tiga unit batuan utama, yaitu diorit, granodiorit, dan endapan aluvial, yang masing-masing berkontribusi terhadap keragaman medan dan stabilitas fisik daerah tersebut.

Sejumlah studi menyebutkan integrasi data geomorfologi seperti morfometri, klasifikasi bentuk lahan, dan distribusi litologi sangat penting selama fase awal perencanaan teknik, di mana medan memainkan peran sentral dalam menentukan kelayakan desain dan fungsionalitas jangka panjang.

Dalam kasus ini, keberadaan kondisi geologi yang kompleks semakin membenarkan perlunya studi geomorfologi untuk menginformasikan keputusan teknis dan memitigasi risiko yang terkait dengan infrastruktur bendungan.

Dalam penelitian ini menyebutkan minimnya analisis geomorfologi lokal pada segmen-segmen tertentu struktur bendungan, khususnya area tepi kanan Bendungan Bulango Ulu, merupakan kesenjangan kritis dalam penelitian infrastruktur regional.

Pembangunan Bendungan Bulango Ulu di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. FOTO: FIRGITHA DESYA PADJA

Kelalaian ini menimbulkan risiko yang signifikan karena variasi gradien lereng, komposisi litologi, atau pola drainase yang tidak terdeteksi dapat mengganggu stabilitas dan efektivitas bendungan.

Solusi umum terletak pada penerapan analisis medan yang komprehensif melalui studi lapangan dan teknik penginderaan jarak jauh, yang memungkinkan penggambaran unit geomorfologi dan deteksi fitur fisik yang relevan dengan perencanaan teknik dan lingkungan.

Menurut peneliti, kombinasi survei lapangan dan analisis Model Elevasi Digital (DEM) telah diakui secara luas sebagai pendekatan yang efektif dalam studi geomorfologi terkini.

Integrasi ini meningkatkan akurasi spasial dan memungkinkan ekstraksi parameter morfometrik yang detail seperti distribusi lereng, variasi elevasi, dan pola drainase. Kerangka kerja metodologis ini telah terbukti efektif di wilayah tektonik aktif yang serupa dengan lokasi studi dan menawarkan landasan yang kuat untuk mengevaluasi karakteristik medan di tepi kanan Bendungan Bulango Ulu.

Penelitian ini berada di Desa Tuloa, meliputi area seluas 0,145 km² dengan elevasi berkisar antara 40 hingga 160 m di atas permukaan laut.

Studi menyimpulkan bahwa geomorfologi daerah tepi kanan Bendungan Bulango Ulu terdiri dari dua satuan bentuk lahan utama: Perbukitan Rendah Struktural (S1) dan Dataran Fluvial (F1), yang dibentuk oleh gaya tektonik endogenik dan proses eksogenik seperti erosi dan sedimentasi.

Bendungan Bulango Ulu di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. FOTO: FIRGITHA DESYA PADJA

Konfigurasi litologi didominasi oleh diorit, granodiorit, dan endapan aluvial tak terkonsolidasi, yang masing-masing memberikan sifat fisik dan mekanis yang berbeda pada medan tersebut.

Analisis morfometri menunjukkan bahwa lereng curam dan sangat curam menutupi lebih dari separuh wilayah, menunjukkan kerentanan tinggi terhadap ketidakstabilan lereng dan bahaya hidrologi.

Keberadaan pola aliran sungai sub-dendritik dan kesejajaran rekahan tegangan mendukung pengaruh aktivitas tektonik dalam mengendalikan evolusi geomorfik, sementara data iklim menekankan peran limpasan permukaan dalam memodifikasi bentuk lahan.

Exit mobile version