• Saat menganalisis perbedaan kondisi ini dibandingkan dengan iklim pra-industri yang 1,4°C lebih dingin—menggunakan kerangka kerja atribusi WWA standar yang membandingkan kemungkinan cuaca dalam iklim saat ini dengan kemungkinan cuaca dalam iklim pra-industri yang 1,4°C lebih dingin melalui model iklim dan model statistik berbasis pengamatan cuaca.
WWA menemukan adanya peningkatan signifikan dalam hal kemungkinan dan intensitas suhu yang sangat hangat pada bulan Juli-Agustus di titik kisi (gridcell) terdekat dengan lokasi kegagalan lereng maupun di wilayah yang lebih luas. Peningkatan suhu yang dapat diatribusikan pada perubahan iklim akibat aktivitas manusia selama bulan Juli dan Agustus mencapai sekitar 1,5°C, angka yang sebanding dengan tingkat pemanasan global.
Secara tahunan, peningkatan yang dapat diatribusikan tersebut lebih besar daripada pemanasan global, yakni sekitar 2°C. Pada bulan-bulan musim dingin tertentu, peningkatan yang teramati bahkan mencapai 3°C.
• WWA belum mengkaji apakah peristiwa longsoran batuan dan es (rock-ice avalanche) spesifik ini akan tetap terjadi seandainya tidak ada perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Atribusi langsung semacam itu memerlukan bukti tambahan yang menghubungkan kondisi atmosfer dengan suhu bawah permukaan, tekanan air pada rekahan, serta evolusi mekanis lereng tersebut.




