Karya Karawo Living Heritage Corridor menawarkan gagasan untuk mereimajinasikan Karawo sebagai warisan budaya Gorontalo melalui pendekatan immersive tourism, inovasi desain, dan pemberdayaan masyarakat.
Gagasan tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu melihat kekayaan budaya lokal dari perspektif yang lebih luas. Karawo tidak hanya diposisikan sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari inovasi pariwisata dan penguatan ekonomi kreatif masyarakat.
Kompetisi internasional ini diselenggarakan oleh Sentosa Foundation bekerja sama dengan Faculty of Agro Industry, Chiang Mai University, serta berada dalam rangkaian program yang dikurasi oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas).
Kolaborasi lintas fakultas tersebut memperlihatkan bahwa gagasan inovatif dapat lahir dari sinergi berbagai disiplin ilmu. Perpaduan kompetensi bahasa, budaya, pendidikan, kewarganegaraan, hingga manajemen menjadi kekuatan dalam mengembangkan konsep Karawo Living Heritage Corridor.
Dekan Fakultas Sastra dan Budaya UNG, Prof. Nonny Basalama, Ph.D., mengatakan keberhasilan ini menunjukkan bahwa mahasiswa kita memiliki kemampuan untuk mengembangkan gagasan yang kreatif, inovatif, dan mampu berkompetisi di tingkat internasional.




