Tiupan Siput Laut Raksasa Penanda Dimulainya Negosiasi Konferensi Kelautan PBB

Aktivis iklim Polinesia Ludovic Burns Tuki meniup triton terompet menandai dimulainya pertemuan puncak Konferensi Kelautan Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-3, yang berlangsung di Nice, Prancis, pada Senin (9/3). FOTO: FABRICE ROBINET/UN NEWS

Darilaut – Aktivis iklim Polinesia Ludovic Burns Tuki meniupkan triton terompet sebelum negosiasi dalam pertemuan Konferensi Kelautan Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-3 atau Third United Nations Ocean Conference (UNOC3) yang berlangsung di Nice, Prancis.

Triton terompet (Charonia tritonis) atau kerang terompet disebut juga pu, sudah lama dikenal sebagai alat tiup tradisional negara-negara pasifik dan wilayah timur Indonesia.

Siput laut raksasa yang tergolong moluska atau hewan tanpa tulang belakang yang berbadan lunak itu, sebagai penanda konferensi pada pembukaan hari Senin (9/6) sebagai ritual dan refleksi.

“Itu cara untuk memanggil semua orang,” kata Tuki, seperti dikutip dari UN News. “Saya meniup dengan dukungan para leluhur kita.”

Dalam navigasi Polinesia, triton terompet dibunyikan saat baru tiba di pulau untuk menandakan niat damai.

Tuki lahir di Tahiti dari orang tua dari Kepulauan Tuamotu dan Pulau Easter, melihat lautan sebagai batas dan ikatan.

“Kita bukan hanya negara,” katanya. “Kita perlu berpikir seperti sistem kolektif, karena ini adalah satu lautan, satu masyarakat, masa depan untuk semua.”

Segmen budaya tersebut juga mencakup berkat dari sejarawan Tahiti Hinano Murphy, pertunjukan seni bela diri oleh master taekwondo Prancis Olivier Sicard.

Adapula refleksi ilmiah oleh penjelajah laut dalam Antje Boetius, dan kesaksian puitis oleh pembuat film Mauritania Abderrahmane Sissako, yang diiringi oleh musisi kora Wassa Kouyate.

Melansir UN News, tujuan Konferensi ini ambisius tetapi jelas: untuk memajukan janji ’30 by 30′, mempromosikan perikanan berkelanjutan, dan mendekarbonisasi transportasi laut. Selain itu, membuka aliran baru “keuangan biru,” termasuk obligasi laut dan pertukaran utang dengan alam untuk mendukung negara-negara pesisir yang rentan.

Selain sesi pleno, hari Senin menampilkan dua panel aksi tingkat tinggi: satu tentang konservasi dan pemulihan ekosistem laut — termasuk habitat laut dalam. Satu lagi tentang penguatan kerja sama ilmiah, pertukaran teknologi, dan pendidikan untuk menjembatani kesenjangan antara sains dan kebijakan.

Saat pembukaan, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menjelaskan bahwa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 14, tentang ‘Kehidupan di Bawah Air’, tetap menjadi yang paling sedikit didanai dari 17 tujuan global PBB.

“Ini harus berubah,” kata Guterres. “Kita membutuhkan model yang berani untuk membuka modal swasta.”

“Apa yang hilang dalam satu generasi,” menurut Guterres, “dapat kembali dalam satu generasi. Lautan leluhur kita — yang penuh dengan kehidupan dan keanekaragaman — bisa lebih dari sekadar legenda. Itu bisa menjadi warisan kita.”

Negosiasi Berisiko

Nada yang ditetapkan dalam pidato pembukaan memperjelas bahwa Nice akan menjadi panggung untuk negosiasi berisiko tinggi — untuk menyelesaikan perjanjian global tentang polusi plastik, meningkatkan keuangan laut, dan menavigasi pendapat yang saling bertentangan seputar penambangan dasar laut.

Ratusan janji baru diharapkan akan diumumkan, berdasarkan lebih dari 2.000 komitmen sukarela yang dibuat sejak Konferensi Kelautan PBB pertama pada tahun 2017.

Pembicaraan selama seminggu berpuncak pada adopsi deklarasi politik dan pengungkapan Rencana Aksi Kelautan Nice, cetak biru yang selaras dengan Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal yang penting, perjanjian tahun 2022 untuk melindungi 30 persen ekosistem laut dan darat pada tahun 2030.

“Laut dalam tidak boleh menjadi Wild West,” Guterres memperingatkan. KTT tersebut diadakan di tempat yang dibangun khusus yang menghadap ke Port Lympia, marina bersejarah Nice, yang sekarang diubah menjadi ‘Zona Biru’ diplomatik yang aman.

Pada hari Minggu, upacara simbolis yang dipimpin oleh Li Junhua, kepala Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB dan Sekretaris Jenderal konferensi, menyaksikan pengibaran bendera Prancis dan PBB di atas pelabuhan.

“Upacara ini tidak hanya menandai penyerahan resmi pelabuhan bersejarah ini ke tangan Perserikatan Bangsa-Bangsa, tetapi juga dimulainya minggu komitmen, tanggung jawab, dan harapan bersama,” kata Li.

Exit mobile version