Adapula refleksi ilmiah oleh penjelajah laut dalam Antje Boetius, dan kesaksian puitis oleh pembuat film Mauritania Abderrahmane Sissako, yang diiringi oleh musisi kora Wassa Kouyate.
Melansir UN News, tujuan Konferensi ini ambisius tetapi jelas: untuk memajukan janji ’30 by 30′, mempromosikan perikanan berkelanjutan, dan mendekarbonisasi transportasi laut. Selain itu, membuka aliran baru “keuangan biru,” termasuk obligasi laut dan pertukaran utang dengan alam untuk mendukung negara-negara pesisir yang rentan.
Selain sesi pleno, hari Senin menampilkan dua panel aksi tingkat tinggi: satu tentang konservasi dan pemulihan ekosistem laut — termasuk habitat laut dalam. Satu lagi tentang penguatan kerja sama ilmiah, pertukaran teknologi, dan pendidikan untuk menjembatani kesenjangan antara sains dan kebijakan.
Saat pembukaan, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menjelaskan bahwa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 14, tentang ‘Kehidupan di Bawah Air’, tetap menjadi yang paling sedikit didanai dari 17 tujuan global PBB.
“Ini harus berubah,” kata Guterres. “Kita membutuhkan model yang berani untuk membuka modal swasta.”
“Apa yang hilang dalam satu generasi,” menurut Guterres, “dapat kembali dalam satu generasi. Lautan leluhur kita — yang penuh dengan kehidupan dan keanekaragaman — bisa lebih dari sekadar legenda. Itu bisa menjadi warisan kita.”




