Transaksi & Digitalisasi BRI di Gorontalo: Dari Warung Pinggir Jalan sampai Mahasiswa, Cepat dan Praktis

Aktivitas perekonomian lokal dan arus besar digitalisasi layanan keuangan di Gorontalo. FOTO: NOVITA J. KIRAMAN/DARILAUT.ID

Darilaut – Di sudut kota yang dulu lebih akrab dengan dompet tebal dan uang tunai, kini petugas pasar, penjual kopi, hingga pemilik warung kelontong sibuk menempelkan stiker kecil bercetak QR.

Bukan sekadar tren, ini bagian nyata dari arus besar digitalisasi layanan keuangan yang digencarkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) bersama otoritas nasional.

Di Gorontalo, penerapan QRIS, layanan BRImo, dan inisiatif kolaboratif antara BRI dengan pemerintah daerah mulai meresap ke aktivitas ekonomi sehari-hari, merubah cara orang bertransaksi, menabung, dan melayani pelanggan.

Di Gorontalo, debat tentang kemudahan hidup modern sering berujung pada satu kata: digital. Di pasar tradisional, warung kopi, hingga kampus, QRIS dan layanan perbankan digital BRI mulai menjadi pemandangan biasa.

Bagi banyak orang, termasuk pelaku usaha mikro dan generasi muda, teknologi ini menjanjikan transaksi tanpa tunai yang cepat dan tercatat. Namun di balik itu, ada tantangan literasi, infrastruktur, dan kebiasaan yang masih perlu dilalui agar manfaatnya benar-benar merata.

BRI sejak beberapa tahun terakhir memacu program transformasi digital yang masif. Pendekatan BRI bukan sekadar mengganti mesin kas, tapi menata ulang proses layanan agar ramah digital, dari aplikasi mobile banking sampai sistem pembayaran QRIS yang mudah diintegrasikan oleh UMKM.

Transformasi ini tercatat sebagai bagian dari upaya BRI menjadi lebih customer-centric dan efisien dalam layanan perbankan.

Kondisi di lapangan, implementasi tidak seragam. Banyak pedagang kaki lima kini menerima pembayaran lewat QRIS, seorang penjual sate di bilangan pusat kota bilang transaksi non-tunai memudahkan pencatatan dan menurunkan risiko uang salah.

Studi empiris tentang QRIS menunjukkan adopsi yang meningkat secara nasional karena kemudahan penggunaan dan dukungan regulasi Bank Indonesia. Namun penerapan pada UMKM masih dipengaruhi oleh literasi keuangan dan akses infrastruktur. Artinya: teknologi tersedia, tetapi pemanfaatannya sangat tergantung pada konteks lokal.

BRI Gorontalo. FOTO: NOVITA J. KIRAMAN/DARILAUT.ID

Mahasiswa sebagai pengguna aktif digital banking memberikan perspektif yang menarik. Dari wawancara dengan dua mahasiswa di Gorontalo, terlihat dua sisi pengalaman.

Rian, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo, mengatakan:

 “Saya hampir selalu pakai mobile banking BRI untuk transfer, bayar tagihan, dan QRIS saat jajan. Praktis, tinggal scan. Yang jadi masalah kadang jaringan di beberapa sudut kota masih lelet, dan beberapa penjual belum paham cara pakai QRIS dengan benar.”

Pernyataannya sejalan dengan temuan penelitian lokal yang menemukan bahwa penggunaan mobile banking di kalangan mahasiswa Gorontalo meningkat tetapi dipengaruhi kualitas jaringan dan tingkat literasi digital.

Sementara itu, Nisa, mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Ichsan Gorontalo, menyoroti keamanan dan biaya:

“Saya percaya pakai aplikasi resmi bank seperti BRI. Tapi sebagai pelajar, saya juga perhatikan biaya transaksi kecil dan kemudahan refund kalau terjadi kesalahan. Edukasi dari bank soal keamanan transaksi sangat membantu.”

Persepsi mahasiswa seperti Nisa juga tercermin dalam studi yang menunjukkan bahwa literasi keuangan memengaruhi keputusan adopsi QRIS, bukan sekadar ketersediaan teknologi semata.

Dampak nyata digitalisasi terhadap UMKM Gorontalo juga mulai terlihat: transaksi lebih cepat, laporan penjualan lebih rapi, dan akses ke layanan kredit atau bantuan pemerintah lebih mudah ketika riwayat transaksi tercatat.

Namun penelitian tentang digitalisasi layanan perbankan di Gorontalo termasuk pada segmen perbankan syariah menunjukkan bahwa penerimaan teknologi bergantung pada kesiapan institusi dan pengguna. Faktor budaya organisasi bank dan program literasi lokal menjadi penentu keberhasilan adopsi. Studi-studi lokal ini menjadi rujukan penting bagi pengembangan strategi inklusi finansial di daerah.

Aktivitas perekonomian lokal dan arus besar digitalisasi layanan keuangan di Gorontalo. FOTO: NOVITA J. KIRAMAN/DARILAUT.ID

Lantas, apa yang masih perlu dibenahi? Pertama, literasi digital dan keuangan perlu diperlancar melalui program terarah yaitu: bank, kampus, dan pemerintah daerah bisa bersinergi untuk pelatihan sederhana bagi pedagang dan mahasiswa.

Kedua, infrastruktur jaringan harus diperbaiki agar pengalaman pengguna tidak terganggu di titik-titik layanan publik. Ketiga, BRI dan mitra harus terus menyederhanakan antarmuka aplikasi serta transparansi biaya agar kelompok berpenghasilan rendah merasa aman dan diuntungkan.

Secara keseluruhan, transformasi digital BRI membuka peluang besar bagi perekonomian lokal Gorontalo. Mempercepat transaksi, menambah efisiensi UMKM, dan memudahkan kehidupan generasi muda. Tetapi untuk benar-benar inklusif, langkah teknis harus disertai upaya edukatif dan investasi infrastruktur.

Jika semua pihak bergerak bersama dalam hal ini: bank, komunitas kampus, pelaku usaha, dan pemerintah. Gorontalo bisa menjadi contoh bagaimana teknologi finansial mengangkat ekonomi daerah tanpa meninggalkan kelompok rentan di belakang. (Novita J. Kiraman)

Exit mobile version