Sementara itu, Nisa, mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Ichsan Gorontalo, menyoroti keamanan dan biaya:
“Saya percaya pakai aplikasi resmi bank seperti BRI. Tapi sebagai pelajar, saya juga perhatikan biaya transaksi kecil dan kemudahan refund kalau terjadi kesalahan. Edukasi dari bank soal keamanan transaksi sangat membantu.”
Persepsi mahasiswa seperti Nisa juga tercermin dalam studi yang menunjukkan bahwa literasi keuangan memengaruhi keputusan adopsi QRIS, bukan sekadar ketersediaan teknologi semata.
Dampak nyata digitalisasi terhadap UMKM Gorontalo juga mulai terlihat: transaksi lebih cepat, laporan penjualan lebih rapi, dan akses ke layanan kredit atau bantuan pemerintah lebih mudah ketika riwayat transaksi tercatat.
Namun penelitian tentang digitalisasi layanan perbankan di Gorontalo termasuk pada segmen perbankan syariah menunjukkan bahwa penerimaan teknologi bergantung pada kesiapan institusi dan pengguna. Faktor budaya organisasi bank dan program literasi lokal menjadi penentu keberhasilan adopsi. Studi-studi lokal ini menjadi rujukan penting bagi pengembangan strategi inklusi finansial di daerah.

Lantas, apa yang masih perlu dibenahi? Pertama, literasi digital dan keuangan perlu diperlancar melalui program terarah yaitu: bank, kampus, dan pemerintah daerah bisa bersinergi untuk pelatihan sederhana bagi pedagang dan mahasiswa.




