Darilaut – Cadangan air daratan menunjukkan tren negatif yang terus berlanjut sejak periode 2014–2016, disertai dengan meluasnya wilayah yang mengalami kondisi di bawah normal.
Antara tahun 2021 dan 2025, kondisi penyimpanan air darat yang berada di bawah normal berulang kali melanda wilayah barat daya Amerika Serikat, Patagonia dan wilayah Andes subtropis, daerah hulu sungai Gangga-Indus, Afrika Utara, Timur Tengah, Asia Tengah, serta Tiongkok bagian timur.
Sementara itu, anomali positif yang persisten terjadi di sebagian wilayah Afrika sub-Sahara, Sahel, dan Dataran Tinggi Tibet.
Laporan terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengenai State of Global Water Resources (Kondisi Sumber Daya Air Global) memberikan penilaian tahunan komprehensif berbasis sains mengenai siklus hidrologi dan peristiwa ekstrem pada tahun 2025, serta lima tahun terakhir.
Pada tahun 2025, kondisi di bawah normal tercatat di wilayah utara dan barat daya Amerika Utara, Patagonia, Eropa Timur, Timur Tengah, Asia Tengah, Brasil bagian timur, India bagian utara, sebagian Eropa Utara, Federasi Rusia, Tiongkok, dan Afrika Utara. Wilayah La Plata di Amerika Selatan menunjukkan tanda-tanda pemulihan parsial dari kekeringan jangka panjang.
Kondisi penyimpanan air yang jauh di atas normal terus berlanjut dari tahun 2024 hingga 2025 di wilayah Afrika Tengah dan Selatan.
Air Tanah
Defisit air tanah yang berkepanjangan teramati selama periode 2022–2025 di sebagian wilayah Amerika, Eropa, Timur Tengah, India, Afrika bagian selatan, dan Australia.
Tingkat air tanah yang berada di bawah normal hingga jauh di bawah normal secara persisten dan meluas teramati di seluruh Eropa Tengah dan Timur, wilayah tengah Amerika Serikat, sebagian Meksiko, Cile bagian utara dan tengah, Brasil bagian timur laut dan tengah-barat, Afrika Selatan bagian utara, India barat laut, dan sebagian Australia bagian selatan.
Hal ini mengindikasikan adanya penyusutan kumulatif disertai tren kekeringan selama beberapa tahun.
Kondisi di atas normal hingga jauh di atas normal terjadi di antaranya di sebagian Prancis, sebagian besar Eropa Utara, Amerika Serikat bagian tenggara, sebagian besar wilayah Afrika Selatan, Asia Tenggara, dan Australia bagian timur.
Daerah Aliran Sungai
Selama lima tahun periode pelaporan (2021–2025), debit sungai yang terus-menerus berada di bawah normal teramati di sebagian besar wilayah daerah aliran sungai (DAS) Amazon dan La Plata, Amerika Utara, Afrika Tengah dan Timur, Asia Tengah, serta Timur Tengah.
Debit sungai tahunan pada tahun 2025 tercatat berada di atas normal hingga jauh di atas normal di seluruh wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara, serta sebagian wilayah utara Amerika Selatan.
Di Afrika, aliran air di atas normal teramati di DAS Senegal, Niger, Danau Chad, Orange, dan Limpopo, namun debit jauh di bawah normal terjadi di DAS Nil, Kongo, dan Zambezi.
Debit sungai yang berada di bawah normal hingga jauh di bawah normal berdampak pada beberapa wilayah utama, termasuk sebagian besar Amerika Utara, DAS La Plata dan São Francisco di Amerika Selatan, DAS di Eropa Timur, Timur Tengah, serta Asia Tengah.
Ketinggian air waduk dan danau menunjukkan tren geografis yang serupa dengan kondisi daerah aliran sungai. Ketinggian air danau-danau di Afrika sebagian besar jauh di atas normal, kecuali Danau Kariba yang menjadi pengecualian mencolok.
Tutupan Salju dan Gletser
Kondisi salju berada di bawah normal di seluruh Eropa pada tahun 2025, sementara Federasi Rusia dan Amerika Utara menunjukkan perbedaan kondisi yang kontras antarwilayah.
Pada tahun hidrologi 2025, gletser kehilangan massa sebesar 408 (±132) gigaton, yang setara dengan kenaikan permukaan laut sebesar 1,1 (±0,4) mm. Angka ini menandai tahun keempat berturut-turut di mana setiap wilayah utama yang memiliki gletser mencatat penurunan massa bersih.
Asia Tengah, Asia Selatan bagian barat, Arktik Rusia, Islandia, serta Kanada bagian barat dan AS, semuanya mencatat neraca massa tahunan yang termasuk dalam tiga tahun dengan nilai paling negatif yang pernah tercatat di wilayah-wilayah tersebut.
Beberapa wilayah yang didominasi oleh gletser berukuran lebih kecil—seperti Kaukasus, Kanada bagian barat dan AS, serta Eropa Tengah—kemungkinan telah mencapai kondisi “puncak air” (peak water), yaitu ambang batas saat gletser menghasilkan limpasan air maksimum akibat pencairan.
Tahun 2025 tercatat sebagai salah satu tahun terpanas yang pernah ada. Fenomena La Niña yang lemah muncul menjelang akhir tahun setelah sebelumnya kondisi berada pada fase netral, disertai dengan kondisi Indian Ocean Dipole yang cenderung negatif, yang turut memengaruhi curah hujan.
