Jakarta – Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, belajar dari peristiwa tsunami yang baru saja terjadi di Palu, meskipun BMKG telah mengeluarkan peringatan dini tsunami, akan tetapi masih ada banyak banyak korban berjatuhan. Hal ini terjadi, salah satunya karena belum terbangunnya infrastruktur evakuasi di wilayah tersebut dengan lengkap.
Menurut Dwikorita, sistim Peringatan dini tsunami tidak dapat berhasil baik, jika hanya bergantung pada kemampuan monitoring gempa dan tsunami. Melainkan penting untuk meningkatkan kesiapan lembaga yang meneruskan Peringatan Dini Tsunami untuk selalu berjaga 24 jam.
Selanjutnya, memastikan jaringan komunikasi beroperasi baik. Ini mengingat tsunami bisa terjadi malam hari ketika masyarakat tidak dalam kondisi terjaga.
Di sisi lain kesiapan infrastruktur rencana evakuasi seperti Shelter Evakuasi, jalur evakuasi, dan rambu evakuasi juga penting untuk menjadi perhatian Pemerintah Daerah yang wilayahnya rawan tsunami.
Dwikorita menyampaikan hal ini saat membuka workshop India Ocean Wave 18 Exercise (IOWave18 Exercise), kerjasama BMKG dengan Indian Ocean Tsunami Information Centre (IOTIC)-UNESCO. Kegiatan ini berlangsung di Auditorium BMKG dan Hotel Red Top 15 sampai 17 November.
Kegiatan diikuti 13 negara yang berada di Samudera Hindia, masing-masing Indonesia, Malaysia, India, Oman, Maldives, Timor Leste. Kemudian Iran, Pakistan, Mauritius, Australia, Srilangka, Tanzania, dan Thailand.
Workshop dengan tujuan untuk mengevaluasi kegiatan India Ocean Wave 18 Exercise, yang dilaksanakan di negara-negara Indian Ocean pada September 2018 lalu.
Dwikorita mengatakan, Ocean Wave 18 Exercise sangat penting untuk menguji bagaimana skema peringatan dini tsunami bisa berjalan dengan baik dari hulu hingga hilir. Latihan tidak hanya menguji bagaimana peringatan dini disampaikan dari Pusat Peringatan dini kepada stake holder terkait, tetapi bagaimana melatih kesiapsiagaan masyarakat untuk menguji rencana evakuasi tsunami.
Tidak kalah pentingnya untuk membangun kesiapsiagaan masyarakat. IOWave exercise menjadi salah satu wadah untuk melatih masyarakat melakukan evakuasi secara mandiri jika merasakan gempa potensi tsunami.
Temuan hasil latihan IOWave, dievaluasi bersama dalam workshop, sekaligus sharing pembelajaran penyelenggaraan latihan IOWave masing-masing negara peserta.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengatakan, IOWave Exercise merupakan latihan peringatan dini tsunami untuk negara-negara di Samudera Hindia yang diselenggarakan secara rutin setiap 2 tahunan.
Pada 2018, Indonesia melibatkan banyak pihak untuk berpartisipasi dalam latihan tersebut, yaitu BMKG sebagai Pusat Peringatan Dini Tsunami, BNPB, Metro TV, dan BPBD beserta masyarakat di pesisir Barat Sumatera dan Selatan Jawa.
Daerah yang turut berpartisipasi dalam latihan tersebut adalah Banda Aceh, Aceh Barat, Aceh Selatan, Sibolga, Nias, Pariaman, Padang, Pandeglang, Pangandaran, Daerah Istimewa Yogyakarta, Pacitan dan Bantul.
Training Rencana Evakuasi Tsunami
Menurut Kepala IOTIC-UNESCO Ardito M Kodijat, setelah kegiatan IOWave18 Workshop, akan dilanjutkan dengan pelatihan Tsunami Evacuation, Map, Plan and Procedure (TEMPP) selama 12 hari di Pusat Pendidikan Latihan BMKG Citeko Puncak Bogor.
Kegiatan TEMPP ini memberikan pelatihan bagaimana membuat peta evakuasi, menyusun rencana dan prosedur evakuasi untuk negara-negara rawan tsunami di Samudera Hindia.
Pelatihan tersebut merupakan pelatihan yang ketiga kalinya setelah sebelumnya diselenggarakan di Indonesia dan India. Tahun ini peserta latihan berasal dari negara: Indonesia, Mozambiq, Timor Leste, Mauritius, Yaman, Pakistan, dan India.*
