Darilaut – Seekor kura-kura terbesar di Asia Tenggara diserahkan warga Medan ke Balai Konservasi Sumberdaya Alam (KSDA) Sumatera Utara. Jenis kura-kura yang disebut tuntung laut ini dalam kondisi paling kritis di dunia.
Awalnya kura-kura ini disebut Painted Batagur (Callagur borneoensis). Secara taksonomi berpindah Genus ke Batagur menjadi Batagur borneoensis.
Pada Minggu 3 Oktober warga Medan yang peduli terhadap kelestarian satwa, menyerahkan tuntung laut melalui Seksi Konservasi Wilayah II Stabat didampingi lembaga Yayasan Satu Cita Lestari Indonesia (YSCLI).
Petugas kemudian menitipkan tuntung laut berkelamin jantan ke kolam pembesaran di kantor Resort Suaka Margasatwa (SM) Karanggading Langkat Timur Laut III. Tepatnya di Desa Selotong, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat untuk pemeriksaan kondisi kesehatan serta perawatan sebelum nantinya dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.
Satwa ini diperkirakan berusia 20 tahun. Kura-kura ini bertelur di musim kemarau. Telurnya lebih besar daripada telur itik. Panjang karapas bisa mencapai 60 cm.
Mengutip KKP, sebaran tuntung laut di Sumatera dan Kalimantan. Namun, saat ini hanya tersisa di bagian utara Sumatera sedangkan di Kalimantan belum ada informasi lanjutan.
Salah satu populasi yang besar berada di Aceh Tamiang. Kura-kura ini hidup di air tawar dan payau.
Tuntung laut bermain hingga ke muara Tamiang, muara Raja Muda, muara Pusung Ketapang, muara Pusung cium dan muara Pulau Rukui.
Tuntung Laut merupakan satwa liar yang dilindungi undang-undang berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/ KUM.1/12/2018.
Berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN), tuntung Laut termasuk dalam kategori kritis atau CR (Critically endangered).
Sementara masih masih banyak yang mengonsumsi telur tuntung laut. Selain itu, ada yang menjual untuk diekspor ke China.
Batagur borneoensis terdaftar sebagai salah satu dari 25 kura kura air tawar yang terancam punah di dunia (2011) dan masuk daftar Apendix II CITES dengan tidak ada kuota perdagangan yang ditangkap di alam (CITES, 2013).
Satwa ini lebih mudah dilakukan penangkaran dibanding penyu dan telah ada penangkaran di Vawal Nasional Park di Gazipur Bangladesh dan di India.
Dalam beberapa tahun terakhir Yayasan Satu Cita melakukan upaya pelestarian tuntung laut. Untuk menyelamatkan satwa ini, Yayasan Satucita selalu melakukan patroli sarang selama musim bertelur.
Catatan Yayasan Satucita, sejak Desember 2020 hingga Februari 2021, tim melakukan patroli sarang di dua lokasi bersarang di Ujung Tamiang, Kabupaten Aceh Tamiang. Ini adalah patroli sarang ke 10 kami di Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.
Anggota tim yang melakukan patroli sarang di Ujung Tamiang terdiri dari staf BKSDA Provinsi Aceh, staf Yayasan Satucita, anggota rombongan wisata di Desa Pusung Kapal dan Sungai Kuruk III, staf PT Pertamina Rantau.
Pada saat yang sama, tim dari Dinas Perikanan dan Kelautan Aceh Tamiang juga melakukan patroli sarang di Pantai Kuala Genting.
Tim tersebut bermarkas di Desa Pusung Kapal. Mereka pergi ke pantai setiap malam, tepat sebelum air pasang, untuk mencari jejak betina terrapin yang dicat dan menemukan sarangnya.
Tim berjalan sepanjang sekitar 4 – 5 km setiap malam di pantai untuk melakukan ini. Saat sarang ditemukan, anggota tim menggali sarang dan memindahkan telur ke dalam kotak busa atau ember yang berisi pasir pantai.
Kemudian, kembali ke desa dan mengubur kembali telur-telur tersebut ke dalam sarang buatan di tempat penetasan. Kedalaman dan lebar sarang buatan sama dengan sarang aslinya.
Hasil patroli sarang tahun ini, sebanyak 579 butir telur dari 33 sarang berhasil diamankan dari perburuan telur secara ilegal, pemangsaan alami oleh babi hutan (Sus scrofa ) dan cicak (Varanus salvator).
Telur ini ditemukan di Pantai Ujung Tamiang dan Pusung Cium. Namun kebanyakan sarang berada di Ujung Tamiang.
Dari jumlah tersebut, 330 butir telur berhasil ditetaskan dan saat ini sedang dipelihara di kolam di Pusat Informasi Painted Terrapin sebelum dilepaskan kembali ke alam liar.
Data morfometrik dasar dari keturunan ini telah dicatat dalam database. Jadi, bisa dipantau pertumbuhannya dalam jangka panjang.
Terdapat pula beberapa telur gagal menetas karena tidak subur atau dimakan semut saat ditetaskan di hatchery.
Sejak program ini diluncurkan tercatat lebih dari 3500 tukik terrapin lukis (Batagur borneoensis) telah dilepaskan kembali ke alam liar.
