“Kita belum mengetahui secara pasti apa yang akan dibahas, namun UNEP telah mengidentifikasi enam permasalahan yang mungkin perlu ditangani oleh Majelis,” ujar Ochalik.
Salah satunya, kata Ochalik, penerapan Kerangka Keanekaragaman Hayati Global Kunming Montreal, sebuah perjanjian penting yang diselesaikan pada bulan Desember 2022 yang dirancang untuk melindungi dan menghidupkan kembali alam. Area fokus lain yang diusulkan oleh UNEP mencakup keamanan air, penggunaan mineral secara berkelanjutan, dan polusi dari unsur hara, terutama fosfor.
Ochalik mengatakan peran dan kedudukan UNEA mungkin lebih penting saat ini dibandingkan masa-masa sebelumnya. Krisis tiga planet ini mendorong kemiskinan dan kesenjangan, menghambat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dan mengancam masa depan kita sebagai suatu spesies.
UNEA mempunyai kewenangan unik untuk mengatasi tantangan-tantangan ini. Kekuatan utama UNEA lainnya adalah tidak hanya berfokus pada satu aspek lingkungan saja. Pendekatan ini mencakup berbagai isu, sektor, dan wilayah serta bertujuan untuk memberikan solusi yang lebih luas dan holistik.
UNEA akan memasukkan fokus pada dua perjanjian penting. Salah satunya, Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global yang bersejarah, dan yang lainnya adalah perjanjian terobosan yang ditandatangani pada Konferensi Perubahan Iklim PBB tahun lalu yang mencakup pendanaan kerugian dan kerusakan bagi negara-negara yang terkena dampak krisis iklim.




