“Terutama untuk dampak media sosial dan bagaimana pemahaman publik mengenai informasi dan sebagainya,” ujarnya.
Marten meminta agar para peserta mengikuti pelatihan itu dengan serius, untuk meningkatkan pengetahuan, memperbanyak keterampilan khususnya untuk generasi muda.
Meningkatkan pemahaman publik, untuk menangkal disinformasi, merupakan tujuan pelatihan tersebut. Hal ini disampaikan Koordinator Wilayah AMSI Indonesia Timur, Upi Asmaradhana.
Upi mengajak publik dapat memilah-milah informasi yang diterima, agar dapat membedakan informasi yang benar dan hoaks.
“Diharapkan para peserta setelah pelatihan ini dapat melakukan verifikasi, dan mencari sumber-sumber referensi yang beredar di masyarakat,” kata Upi.
Dengan begitu, para peserta atau publik dapat melawan informasi hoaks sendiri, dari berbagai referensi.
“AMSI saya pikir punya kepedulian dan punya tanggung jawab dalam membantu masyarakat memberikan informasi yang kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.
Terakhir Upi menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Gorontalo yang telah memfasilitasi kegiatan pelatihan tersebut.

Ketua AMSI Gorontalo Verrianto Madjowa, mengatakan, kegiatan pelatihan ini diikuti sebanyak 32 peserta, terdiri dari guru sekolah menengah atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), mahasiswa, Humas lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Selain itu, Kantor Pusat Bahasa di Gorontalo dan Perpustakaan Gorontalo.





Komentar tentang post