Darilaut – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memainkan peran penting dalam transisi ke sumber energi terbarukan.
Karena itu, dukungan terhadap layanan cuaca, air, dan iklim terpadu sangat penting untuk meningkatkan ketahanan sistem energi kita terhadap dampak cuaca ekstrem dan perubahan iklim.
“Pekerjaan kami dalam menyediakan data cuaca, air, dan iklim yang akurat menjadi semakin penting seiring transisi dunia ke sumber energi terbarukan seperti tenaga angin, matahari, dan pembangkit listrik tenaga air,” kata Sekretaris Jenderal WMO Prof. Celeste Saulo, dalam siaran pers Jumat (26/1).
Menurut Prof. Saulo, energi terbarukan merupakan landasan tidak hanya untuk memerangi perubahan iklim, namun juga menjamin keamanan energi untuk generasi mendatang.
“Sangat menggembirakan melihat bagaimana wawasan meteorologi semakin diintegrasikan ke dalam perencanaan energi dan proses pengambilan keputusan, sehingga meningkatkan efisiensi dan keandalan sumber energi terbarukan,” katanya.
WMO berkolaborasi dengan Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) untuk mendorong prakiraan sumber terbarukan seperti tenaga angin, surya, dan air.
Kemitraan ini bukti kekuatan kerja sama global dalam mengatasi perubahan iklim dan memajukan solusi energi ramah lingkungan.
Energi terbarukan kini mendominasi sumber pasokan baru. Pada tahun 2022 saja, 83% kapasitas baru berasal dari sumber energi terbarukan, dengan tenaga surya dan angin merupakan penambahan terbesar.
Peningkatan tersebut kunci untuk mencapai sistem energi dekarbonisasi pada tahun 2050, yang disertai dengan penurunan tajam dan drastis dalam konsumsi bahan bakar fosil, menurut laporan bersama IRENA dan WMO, “2022 Year in review: Climate-driven Global Renewable Energy Potential Resources and Energy Demand.”
Hari Energi Bersih Internasional (International Day of Clean Energy) diperingati pada tanggal 26 Januari untuk meningkatkan kesadaran dan memobilisasi tindakan guna mempercepat transisi menuju energi bersih demi kepentingan manusia dan planet ini.
Energi bersih sangat penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan menyediakan sumber listrik yang dapat diandalkan bagi masyarakat.
Energi merupakan inti dari tantangan ganda: tidak meninggalkan siapa pun dan melindungi Bumi. Dan energi bersih sangat penting dalam solusinya.
“Transisi yang adil dan mendesak dari bahan bakar fosil yang kotor ke energi yang ramah lingkungan sangat penting untuk menghindari dampak terburuk dari kekacauan iklim dan memacu pembangunan berkelanjutan,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
Pembangunan Berkelanjutan
Peran komunitas meteorologi dalam transisi hijau sangat penting karena sumber energi terbarukan sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim dan dampak cuaca ekstrem serta variabilitas iklim alami.
Misalnya, fluktuasi musiman dan tahunan pada tenaga angin di banyak negara bisa mencapai 15%, sedangkan fluktuasi yang lebih rendah terjadi pada tenaga surya.
Mengarusutamakan iklim ke dalam operasional, pengelolaan dan perencanaan sumber daya energi harus menjadi prioritas.
Hal ini dapat mengarah pada pembentukan Sistem Peringatan Dini untuk membantu mengelola beban energi, sumber daya, dan pemeliharaan dengan lebih baik.
Selain itu, hal ini dapat memberikan masukan bagi modernisasi dan perluasan infrastruktur energi serta memicu inovasi yang diperlukan di bidang teknologi, pasar, dan kebijakan.
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 7 (SDG 7), yang berfokus pada energi yang terjangkau dan bersih, adalah memastikan akses universal terhadap energi yang ekonomis, andal, berkelanjutan, dan modern pada tahun 2030.
Saat ini, upaya global masih gagal mencapai SDG 7, karena 675 juta orang masih kekurangan akses terhadap listrik yang dapat diandalkan dan hidup dalam kegelapan.
Pada bulan April 2024, Majelis Umum PBB (UNGA) akan melakukan Inventarisasi Global tentang Energi Berkelanjutan untuk mengevaluasi kemajuan dan mengusulkan solusi.
