Keterlibatan kedua kelompok kebencanaan tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung koordinasi dan pelaksanaan distribusi bantuan di tingkat masyarakat.
Keterlibatan SIBAT dalam kegiatan ini juga merupakan bagian dari keberlanjutan penguatan kapasitas masyarakat yang telah dilakukan sebelumnya. SIBAT Way Muli Timur dan SIBAT Way Muli merupakan kelompok yang pernah difasilitasi pembentukan dan pelatihannya oleh Yayasan Bumi Tangguh pada tahun 2019, dalam rangka respons terhadap bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda wilayah tersebut.
Pengalaman dan kapasitas yang telah dibangun sejak saat itu menjadi modal penting bagi masyarakat untuk terus berperan dalam kesiapsiagaan dan respons terhadap berbagai ancaman bencana, termasuk dalam menghadapi dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Koordinator kegiatan, Darwin, menjelaskan bahwa kebutuhan masker masih cukup tinggi karena abu vulkanik masih ditemukan di lingkungan permukiman dan sepanjang jalan.
“Bantuan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, terutama mereka yang harus beraktivitas di luar rumah.
Debu vulkanik masih ada di sekitar permukiman dan jalan serta dapat kembali beterbangan saat tertiup angin atau ketika kendaraan melintas. Masyarakat menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Bumi Tangguh atas bantuan yang telah diberikan,” kata Darwin.




