Hoaks Kangkung yang Mematikan

Konten kangkung yang mematikan. GAMBAR: DARILAUT.ID/CUPLIKAN LAYAR

Darilaut – Hampir setiap tahun konten tentang “Kangkung yang Mematikan” beredar di berbagai platform media sosial.

Narasi konten tersebut menginformasikan seorang pemuda asal Solo yang menderita sakit perut, kemudian meninggal dunia karena makan kangkung yang ada lintah.

Tahun 2024 masih beredar di media sosial seperti grup WhatsApp (WA) mengenai “Kangkung yang Mematikan (Hati2 memasak kangkong)”.

Cerita berawal dari sebuah klinik yang terkenal di Yogya. Dokter kebingungan karena ada seorang pemuda asal Solo menderita sakit perut. Pemuda itu lantas dibawa ke Klinik oleh orang tuanya setelah dua hari menderita diare. Sudah bermacam obat sakit perut yang diberikan kepada pemuda itu, namun tidak kunjung sembuh.

Setelah diperiksa, ternyata sebelum menderita diare, pemuda itu makan kangkung tumis di restoran bersama orang tuanya. Dokter segera melakukan rontgen, ternyata dalam usus telah berkembang biak lintah.

Dokter menyerah dan menyatakan tidak sanggup mengambil tindakan medis apapun. Akhirnya pemuda malang itu pun meninggal dunia.

Narasi tentang kangkung tersebut beredar, diteruskan berkali-kali di berbagai platform media sosial, dan muncul setiap tahunnya.

Hasil Telaah

Narasi “Kangkung yang Mematikan” bukan baru kali ini saja muncul, akan tetapi konten yang tidak benar tersebut sudah beredar di berbagai platform media sosial sejak 2015 lalu.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (kominfo.go.id) pada 11 Agustus 2019 telah memberikan penjelasan konten hoaks tersebut.

“Diunggah pada media sosial sebuah informasi yang menyebutkan kabar meninggal dunia seorang pemuda asal solo akibat diare yang disebabkan adanya lintah yang masuk dan berkembang biak pada perut. Disebutkan pula bahwa sebelumnya pemuda itu memakan tumis kangkung.

Faktanya, menurut Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, dari Divisi Gastroenterologi, Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengatakan belum pernah mendapati kasus semacam itu. Selama ini parasit yang ditemukan di dalam pencernaan manusia adalah cacing dan bukan lintah.

Dijelaskan pula bahwa untuk mengantisipasi masuknya cacing pada saluran pencernaan, dr Ari mengingatkan untuk memasak sayuran hingga matang. Jikapun memakan sayuran mentah sebagai lalapan pastikan telah benar-benar dicuci sampai bersih. Selain itu ada baiknya minum obat cacing secara teratur, yakni enam bulan sekali.”

Pada 28 Januari  2020 konten ini muncul kembali dengan judul “Kangkung Mematikan, Pemuda di Solo Meninggal Karena Lintah dalam Kangkung.”

Situs turnbackhoax.id yang dikelola oleh MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) telah menelusuri konten ini, dan pernah dibantah oleh dokter penyakit dalam dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

“Kalau lintah sepertinya nggak bisa ya. Kena asam lambung pasti mati. Parasit di tubuh manusia memang ada. Umumnya telur cacing yang masuk ke tubuh, bermanifestasi di usus halus,” terang dr Ari dalam artikel berjudul “Benarkah Lintah dalam Kangkung yang Termakan Bisa Bersemayam di Usus?”

Tahun 2022 konten “Pria Asal Solo Meninggal Dunia Usai Makan Kangkung Berisi Lintah” muncul lagi dan telah ditelusuri pemeriksa fakta Liputan6.com dan Antaranews.com.

Pada 12 Maret 2022 Cek Fakta Liputan6.com menelusuri kabar tentang seorang pria asal Solo meninggal dunia usai mengonsumsi kangkung berisi lintah. Penelusuran dilakukan dengan memasukkan kata kunci “kangkung lintah” di kolom pencarian Google menemukan bahwa konten tersebut tidak pernah terbukti.

Selanjutnya, pada Rabu, 16 Maret 2022, Antaranews.com menayangkan “Hoaks! Pria asal Solo meninggal dunia akibat memakan kangkung berisi lintah.”

Konten ini berdasarkan sebuah unggahan foto yang menampilkan binatang melata pada potongan bagian batang sayuran kangkung muncul di media sosial pada 9 Maret 2022.

Unggahan foto itu disertai narasi yang mengklaim bintang melata kecil pada bagian dalam batang kangkung itu adalah lintah.

ANTARA tidak menemukan laporan resmi yang menyebut pria asal Solo meninggal akibat lintah terdapat dalam pencernaannya.

Dokter Ulfi Umroni, seperti dilansir Alodokter, menjelaskan bahwa lintah yang masuk ke makanan dan tertelan akan tercerna di rongga mulut dan masuk ke pencernaan.

“Saat setelah dikunyah atau dicerna di rongga mulut, kemungkinan lintah itu sudah mati. Bilapun belum mati, lintah akan masuk ke lambung dan lambung akan meningkatkan asam lambung untuk membunuh lintah itu,” demikian tulis dokter Ulfi menjawab pertanyaan terkait lintah yang masuk ke makanan dan tertelan ke perut.

Kesimpulan

Konten “Kangkung yang Mematikan” muncul hampir setiap tahun dan pertama kali viral Sembilan tahun lalu, pada 2015. Narasi konten ini telah diberi penjelasan oleh pemeriksa fakta dari Kominfo.go.id (Kementerian Komunikasi dan Informatika), turnbackhoax.id (MAFINDO), Liputan6.com dan Antara.

Kabar yang beredar di media sosial bahwa seorang pria asal Solo meninggal dunia usai mengonsumsi kangkung berisi lintah tidak benar atau informasi bohong dan tidak pernah terbukti. Konten tersebut masuk ke dalam kategori konten palsu. (Verrianto Madjowa) 

Rujukan

https://www.kominfo.go.id/content/detail/20609/hoaks-pemuda-asal-solo-meninggal-dunia-karena-diare-akibat-lintah-yang-masuk-saat-makan-kangkung/0/laporan_isu_hoaks

https://turnbackhoax.id/2020/01/28/salah-kangkung-mematikan-pemuda-di-solo-meninggal-karena-lintah-dalam-kangkung/

https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4909084/cek-fakta-tidak-benar-cerita-pemuda-asal-solo-meninggal-dunia-usai-makan-kangkung-berisi-lintah?page=4

https://www.antaranews.com/berita/2764009/hoaks-pria-asal-solo-meninggal-dunia-akibat-memakan-kangkung-berisi-lintah

 

Konten ini diproduksi Darilaut.id sebagai upaya untuk melawan hoaks, informasi bohong, konten palsu dan sejenisnya.

Exit mobile version