Singapura Bikin Struktur Karang Buatan Raksasa

Karang buatan

FOTO: ONG WEE JIN/STRAITS TIMES

SEBUAH struktur tempat karang bertumbuh setinggi 10 meter dibikin di Singapura. Struktur terumbu buatan ini bagian dari proyek “Grow-a-Reef Garden” –sebuah kolaborasi antara JTC dan National Parks Board (Dewan Taman Nasional).

Lokasi penempatan berada di Kepulauan Selatan Singapura, di mana Kepulauan Sisters berada di dalamnya. Penempatan kerangka karang buatan itu dilakukan pada Kamis (8/11) di Pulau Small Sister’s.

Dengan struktur setinggi 10 meter dan membentuk sebuah “rumah bertingkat tiga” karang dapat tumbuh dan berkembang. Ketika karang tumbuh, struktur terumbu ini diharapkan menyumbangkan sekitar 1.000 meter persegi substrat karang tambahan di Taman Laut Kepulauan Sister’s pada 2030.

Speaker of Parliament Tan Chuan-Jin ikut menyaksikan pemasangan struktur pertama tersebut. Tan mengatakan, upaya konservasi jangka panjang dan pengelolaan lingkungan pesisir dan laut sangat penting untuk masa depan Singapura.

“Ini sangat tepat waktu karena prakarsa terumbu karang internasional telah menetapkan tahun ini sebagai Tahun Internasional Terumbu Karang, dan proyek ini akan membantu upaya kami dalam meningkatkan ekosistem terumbu karang Singapura,” kata Tan Chuan-Jin, seperti dikutip Straitstimes.com.

Mengembalikan substrat karang merupakan langkah penting untuk memulihkan karang yang rusak yang menjadi tidak cocok bagi populasi karang untuk menetap.

Proyek ini diusulkan dan diumumkan pada Mei lalu, sebagai bagian dari upaya untuk melindungi terumbu karang di sekitar Singapura dan meningkatkan keanekaragaman hayati laut di perairan sekitarnya.

Struktur instalasi karang buatan ini 40 ha berada di Small Sister’s. Bahan pembuatan struktur ini berupa beton, pipa fiberglass, baja dan batu yang didaur ulang dari proyek-proyek JTC.

Setiap struktur memiliki celah. Celah ini sebagai tempat berlindung dan berkembang spesies ikan dan kehidupan laut lainnya.

GAMBAR: STRAITS TIMES

Setelah struktur tersebut dipasang, akan dipantau melalui inisiatif penelitian yang dikoordinasikan pihak taman nasional.

Singapura telah kehilangan sekitar 60 persen terumbu karangnya untuk reklamasi lahan selama bertahun-tahun. Diperkirakan sekitar 15 persen hingga 20 persen karang di perairan Singapura mati karena pemutihan.

Karang langka yang mungkin terancam pemutihan dapat dipindahkan ke lingkungan yang terkontrol. Hal ini untuk memastikan kelangsungan hidup karang tersebut.

Ahli terumbu karang dari Universitas Diponegoro (Undip) Dr Ir Munasik M.Sc mengatakan, ide yang dibuat Singapura ini mirip dengan pengembangan Artificial Patch Reef. Proyek tersebut meniru habitat karang alami.

“Keberhasilan proyek ini tergantung pada lokasi dan bagaimana faktor penilaian pada situs tersebut,” kata Munasik, dosen di Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip.

Struktur Artificial Patch Reef  yang berhasil dikembangkan di Pulau Panjang, Jepara, Jawa Tengah berbahan beton, yang terdiri dari modul-modul dan disusun berbentuk melingkar bertingkat.

Menurut Munasik, dalam rentang waktu satu setengah bulan, fragmen karang bercabang Acropora telah tumbuh menjadi koloni baru. Pertumbuhannya lebih dari 300 persen. Penerapan transplantasi karang dengan struktur APR berhasil menjadi habitat baru.*

Exit mobile version