Darilaut – Indonesia memiliki tujuh cagar biosfer kepulauan dan pesisir yang masuk dalam World Network of Island and Coastal Biospheres (WNICB). Pengelolaan cagar biosfer tersebut dibahas di Bali Ocean Days 2026.
Tujuh cagar biosfer tersebut yaitu CB Komodo, CB Siberut, CB Wakatobi, CB Taka Bonerate – Kepulauan Selayar, CB Bunaken Tangkoko Minahasa, CB Karimunjawa Jepara Muria, dan CB Raja Ampat.
Pengelolaan cagar biosfer ini bertujuan mendukung konservasi keaneakaragaman hayati laut dan pesisir serta mendorong pariwisata berkelanjutan dalam rangka mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Saat ini masih banyak tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan cagar biosfer, “khususnya konservasi keanekaragaman hayati laut dan pesisir serta ekowisata berkelanjutan,” kata Direktur Eksekutif Komite Nasional Indonesia Man and the Biosphere (MAB) UNESCO, Virni Budi Arifanti.
Virni mengatakan tekanan terhadap lingkungan secara alami maupun antropogenik dan wisata massal (mass tourism) yang melebihi daya dukung lingkungan akan menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati laut dan pesisir, serta memberikan dampak negatif terhadap spesies endemik dan sosial ekonomi masyarakat lokal.
Dalam menanggulangi hal ini, pihaknya mendorong pengelolaan cagar biosfer dengan menerapkan strategi pengelolaan cagar biosfer berdasarkan pendekatan ekosistem lanskap (landscape ecosystem approach).




