Semarang – Ahli terumbu karang dari Universitas Diponegoro (Undip) Dr Ir Munasik M.Sc mengatakan, terumbu buatan Artificial Patch Reef (APR) telah berhasil dikembangkan di Pulau Panjang, Jepara, Jawa Tengah.
“Dalam rentang waktu satu setengah bulan, fragmen karang bercabang Acropora telah tumbuh menjadi koloni baru dengan pertumbuhan lebih dari 300 persen,” kata Munasik, dosen di Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip.
Menurut Munasik, penerapan transplantasi karang, dengan struktur APR dilakukan di perairan dangkal sejak 2015. Lokasi ini berhasil menjadi habitat baru. Struktur APR berbahan beton, terdiri dari modul-modul dan disusun berbentuk melingkar bertingkat.
Pemasangan dilakukan dengan menyusun modul balok beton (berat 30-40 kg) di bawah air dengan bantuan peralatan dan penyelam SCUBA. Karena modul berupa potongan-potongan substrat beton (concrete block) yang ringan, sehingga mudah dalam pemasangan. “Pemasangan tidak membutuhkan alat berat,” ujar Wakil Ketua Dewan Pakar Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) ini.
Modul yang telah terpasang, berfungsi sebagai media substrat transplantasi karang. Setelah struktur APR terbentuk, transplantasi karang dilakukan di bawah air dengan menggunakan berbagai jenis karang.
APR ini telah menyediakan habitat baru bagi ikan karang. Selanjutnya lebih dari setahun telah terjadi rekrutmen karang secara alami dari berbagai jenis karang keras.
Munasik mengatakan, rehabilitasi terumbu karang di Indonesia umumnya terbuat dari bahan beton dengan struktur berbagai bentuk. Seperti berbentuk pipa, kubah atau piramida, batangan, kubus dan silinder.
“Sayangnya, sebagian besar terumbu buatan berbahan beton kurang berhasil, ditandai dengan kurangnya pertumbuhan biomassa karang,” katanya.
Terumbu buatan kurang berhasil karena struktur yang tidak stabil akibat pemilihan bentuk dan kesalahan pemasangan. Pemasangan terumbu buatan selama ini cenderung merusak terumbu karang alami.
Struktur atau substrat yang dipasang terlalu berat. “Lebih dari ratusan kilogram, namun teknologi pemasangan masih sederhana,” ujar Munasik.
Keberhasilan aplikasi terumbu buatan APR di perairan dangkal ini, menjadi sebuah harapan baru dalam pengembangan IPTEK rehabilitasi terumbu karang di Indonesia.*
