Kamis, Agustus 27, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Berita

Gelombang Tinggi, Menhub Perketat Izin Berlayar

redaksi
23 Juli 2018
Kategori : Berita
0
Gelombang Tinggi, Menhub Perketat Izin Berlayar

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menjelaskan tentang kondisi gelombang tinggi di sejumlah perairan laut di Indonesia, Minggu (22/7). FOTO: DOK.DEPHUB

Jakarta – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, memperketat izin berlayar karena di sejumlah perairan laut di Indonesia masih menghadapi gelombang laut tinggi.

“Saya menginstruksikan para Syahbandar untuk memberikan syarat-syarat lebih ketat dan memberikan pemahaman baik (kepada) kapal penumpang, logistik maupun nelayan,” kata Menhub, saat melakukan jumpa pers bersama Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati di Jakarta, Minggu (22/7).

Apabila diperkirakan gelombang akan tinggi dan kapal tidak memenuhi syarat berlayar, tanpa alasan apapun tidak boleh berlayar. Hal ini dilakukan demi keselamatan. Dalam konteks kapal nelayan, akan dilakukan koordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Menhub meminta kepada stakeholder terkait, seperti Pemerintah Daerah dan operator kapal untuk terus berkoordinasi dengan BMKG. Agar mendapatkan info terkini mengenai perkiraan cuaca dan tinggi gelombang laut.

Tentunya, informasi yang disampaikan BMKG dapat menjadi acuan ketika akan melakukan aktivitas transportasi.Setelah mendapatkan info dari BMKG, hendaknya disampaikan juga kepada masyarakat dan para nelayan.

“Sampai saat ini, masih banyak nelayan yang masih menggunakan cara tradisional dalam memperkirakan cuaca ketika hendak melaut,” kata Budi.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, BMKG perlu memberikan peringatan dini karena diperkirakan pada tanggal 23-28 Juli 2018 masih akan terjadi gelombang tinggi. Tanggal tersebut diperkirakan tinggi gelombang laut 2,5 sampai 6 meter. Puncak ekstrem diperkirakan pada tanggal 24-25 Juli 2018.

Perkiraan tinggi gelombang pada 23-28 Juli, 1,25-2,5 meter (sangat waspada). Kondisi ini berpeluang terjadi di Laut Jawa Bagian Timur, Perairan Timur Kotabaru, Selat Makassar Bagian Selatan, Laut Flores, Perairan Baubau- Kepulauan Wakatobi, Laut Banda, Perairan Selatan Pulau Buru-Pulau Seram, Perairan Kepulauan Kei-Kepulauan Aru, Perairan Kepulauan Babar-Kepulauan Tanimbar, Perairan Yos Sudarso, Laut Arafuru dan Perairan Jayapura.

Tinggi gelombang 2,5 sampai 4 meter (berbahaya) berpeluang terjadi di Perairan Sabang, Perairan Utara dan Barat Aceh, Perairan Barat Pulau Simeulue hingga Kepukauan Mentawai, Perairan Barat Bengkulu hingga Lampung, Selat Sunda Bagian Selatan, Perairan Selatan Jawa hingga Pulau Sumbawa, Selat Bali-Selat Lombok-Selat Alas Bagian Selatan, Perairan Selatan Pulau Sumba, Laut Sawu dan Perairan Selatan-Pulau Rote.

Dwikorita mengatakan pada 24-25 Juli, di beberapa daerah berpeluang terjadi peningkatan tinggi gelombang menjadi 4-6 meter (sangat berbahaya).

Daerah-daerah yang diperkirakan akan terjadi peningkatan gelombang tinggi di Perairan Sabang, Perairan Utara dan Barat Aceh, Perairan Barat Pulau Simeulue hingga Kepulauan Mentawai, Peairan Barat Bengkulu hingga Lampung, Samudera Hindia Barat Sumatera, Selat Sunda Bagian Selatan, Perairan Selatan Jawa hingga Pulau Sumba, Selat Bali-Selat Lombok-Selat Alas Bagian Selatan, Samudera Hindia Selatan Jawa hingga NTB.

Sebagai informasi, kondisi tekanan tinggi yang bertahan di Samudera Hindia (Barat Australia) atau disebut dengan istilah Mascarene High memicu terjadinya gelombang tinggi di perairan selatan Indonesia. Hal ini lantaran kecepatan angin yang tinggi di sekitar wilayah selatan Mascarene High di Samudera Hindia. Selain itu, terjadi swell/alun yang dibangkitkan oleh Mascarene High yang menjalar hingga wilayah Perairan Barat Sumatera, Selatan Jawa hingga Pulau Sumba.

Kondisi tersebut berdampak pada peningkatan tinggi gelombang laut hingga berkisar 4 sampai 6 meter di Perairan Jawa hingga Nusa Tenggara.*

 

Tags: BMKGGelombang TinggiMenhub
Bagikan4Tweet2KirimKirim
Previous Post

Perahu Kano Ramah Lingkungan dari Serat Tebu

Next Post

Menteri Susi Apresiasi Penanaman Mangrove di Pulau Pari

Postingan Terkait

2019, Terjadi 5 Gerhana

Gerhana Bulan Besok Tak Dapat Diamati di Indonesia

27 Agustus 2026
Banjir Bandang Dahsyat Menerjang Nepal, 95 Orang Tewas, 391 Wisatawan Hilang

Banjir Bandang Dahsyat Menerjang Nepal, 95 Orang Tewas, 391 Wisatawan Hilang

27 Agustus 2026

UNG Mencatat 82 Mahasiswa Berprestasi Internasional, 521 Nasional

Banjir Melanda Parigi Moutong

Kondisi Masih Cenderung Kering, Kemarau Berlanjut, Peluang Awan Hujan Tetap Ada

BMKG Pantau Titik Panas dan Sebaran Asap di Berbagai Wilayah

Ratusan Penerbangan Terganggu Karena Topan Saudel

Typhoon Saudel Makes Landfall on Japan’s Okinoerabu Island, Heading Toward East China Sea

Next Post
Menteri Susi Apresiasi Penanaman Mangrove di Pulau Pari

Menteri Susi Apresiasi Penanaman Mangrove di Pulau Pari

Komentar tentang post

TERBARU

Gerhana Bulan Besok Tak Dapat Diamati di Indonesia

Banjir Bandang Dahsyat Menerjang Nepal, 95 Orang Tewas, 391 Wisatawan Hilang

Sudah Saatnya Kita Memikirkan Ulang Pembelajaran Bahasa Inggris

UNG Mencatat 82 Mahasiswa Berprestasi Internasional, 521 Nasional

Banjir Melanda Parigi Moutong

Kondisi Masih Cenderung Kering, Kemarau Berlanjut, Peluang Awan Hujan Tetap Ada

AmsiNews

REKOMENDASI

Informasi Peringatan Dini BMKG Dapat Mencegah Hoax

BRIN dan Chinese Academy of Sciences Kerja Sama Riset Kelautan

Gempa 7,1 SR Guncang Kepulauan Talaud

Klaim China di Laut Natuna, Ahli Kelautan Usul Tambah Koarmada

Kaleidoskop 2025: Pohon Tua Bernilai Historis di Kota Gorontalo

Hilal Tidak Terlihat di Gorontalo

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.