Darilaut – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) menjalin kerja sama untuk pemasangan sistem peringatan dini tsunami. Wilayah pemasangan berada di Kabaupaten Mentawai, Nias Selatan dan Banyuwangi.
Kabupaten tersebut merupakan wilayah dengan potensi bahaya tsunami dengan kategori kelas sedang hingga tinggi. Berdasarkan analisis InaRISK, sebanyak 10 kecamatan di Kepulauan Mentawai memiliki potensi bahaya tersebut dengan jumlah populasi terpapar mencapi 28 ribu jiwa.
Demikian pula untuk Nias Selatan dan Banyuwangi. Wilayah-wilayah ini berada pada kategori yang sama untuk bahaya tsunami.
Direktur Peringatan Dini BNPB Afrial Rosya mengatakan, tujuan utama dari pemasangan sistem peringatan dini adalah untuk membangun kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.
“Sistem ini dipasang di lokasi-lokasi yang rentan bencana tsunami sekaligus dilakukan peningkatan kapasitas masyarakatnya untuk menghindari timbulnya korban jiwa, serta kerusakan harta dan benda saat terjadi bencana,” ujar Afrial, Jumat (25/9).
Kerja sama pemasangan sistem peringatan dini kedua belah pihak telah dimulai sejak 2008 lalu. Namun, kerja sama kali ini berfokus pada sistem peringatan dini tsunami.
Langkah ini merupakah komitmen BNPB dalam pelibatan berbagai pihak, khususnya perguruan tinggi, sebagai bagian dari pentaheliks penanggulangan bencana. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) pada Jumat (25/9) secara virtual.





Komentar tentang post