Darilaut – Pemanasan global kini bukan sekadar ancaman, melainkan krisis nyata yang menuntut aksi cepat dan kolaboratif. Dalam forum ilmiah Prima’s Talk yang digelar Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Kamis (9/10), pakar iklim Asia Tenggara Prof. Fredolin T. Tangang dari Universiti Brunei Darussalam memperingatkan bahwa dunia tengah menghadapi peningkatan suhu yang mengkhawatirkan akibat aktivitas manusia.
Mengacu pada laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), Prof. Tangang menyebut tahun lalu sebagai tahun terpanas dalam sejarah dengan kenaikan suhu rata-rata global sebesar 1,55°C dibanding masa praindustri.
“Kita sudah melihat dampaknya, es kutub mencair, permukaan laut naik, suhu lautan meningkat, serta gelombang panas dan badai yang makin sering terjadi,” ujar Prof. Tangang.
Ia memperingatkan, tanpa langkah serius, suhu global berpotensi melonjak hingga 4–5°C pada akhir abad ini, sementara kawasan Arktik bahkan bisa naik 10°C. Untuk mencegah hal itu, dunia perlu memangkas emisi karbon sebesar 50 persen pada 2030 dan mencapai net zero pada 2050. Namun, ia menilai kebijakan global saat ini masih jauh dari target tersebut.
“Jika tidak ada percepatan mitigasi, dunia berisiko menuju pemanasan hingga 3°C pada tahun 2100”.




