Darilaut – Perubahan lanskap pesisir di kawasan Asia Tenggara tidak hanya dipengaruhi oleh pembangunan modern, tetapi juga hasil interaksi panjang antara proses ekologis dan aktivitas manusia selama ribuan tahun.
“Dalam ekosistem pesisir Asia Tenggara, tanah dan air tidak pernah benar-benar terpisah. Keduanya selalu berinteraksi dan saling membentuk lanskap yang terus berubah,” kata Anna Lowenhaupt Tsing, saat kuliah umum dengan tema “The Clam, the Mud, and the Girl: A History of Land Reclamation in Maritime Southeast Asia”.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Widya Graha, BRIN, pada Kamis (5/3) bagian dari upaya memperkuat kolaborasi internasional antara peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan University of California, Santa Cruz.
Anna mengajak peserta melihat sejarah pesisir Asia Tenggara dari perspektif yang lebih luas. Menurut Anna, kawasan pesisir Asia Tenggara memiliki karakter yang dinamis karena batas antara daratan dan perairan selalu berubah akibat proses alam seperti pasang surut dan sedimentasi.
Melalui pendekatan antropologi lingkungan, Anna memperkenalkan konsep “lumpur pesisir” sebagai cara memahami hubungan antara ekologi, sejarah, dan praktik pembangunan.
Dalam pandangannya, lumpur bukan sekadar kondisi geografis, tetapi ruang pertemuan berbagai proses alam dan aktivitas manusia yang membentuk sejarah wilayah pesisir.




