Darilaut – Periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ernowo, mengatakan, dunia kini memasuki era critical elements, di mana berbagai unsur mineral menjadi komponen kunci bagi industri masa depan.
“Transisi menuju energi bersih membutuhkan lonjakan pasokan mineral seperti rare earth elements (REE), lithium, nikel, dan tembaga,” ujar Ernowo saat Webinar DIGDAYA #21 bertajuk “Pengelolaan Sumber Daya Bumi Berkelanjutan” berkaitan dengan Hari Bumi 2026, pada Rabu (22/4).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pusat Riset Sumber Daya dan Geologi, Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN tersebut menyoroti meningkatnya kebutuhan mineral untuk mendukung teknologi modern dan energi terbarukan.
Indonesia, kata Ernowo, berada pada posisi yang sangat menguntungkan. Dengan menguasai sekitar 42% cadangan nikel dunia serta menjadi produsen timah terbesar kedua di dunia, yaitu kontribusi 22% produksi timah global, Indonesia memiliki peran vital dalam rantai pasok industri berbasis mineral.
Ditambah lagi, cadangan bauksit nasional yang masuk empat besar dunia semakin memperkuat daya tawar Indonesia di kancah internasional dalam rantai pasok industri berbasis mineral seperti baterai, electric vehicle, dan energi terbarukan.
Posisi strategis Indonesia dalam peta global mineral kritis menjadi tulang punggung transisi energi bersih dunia.




